LIMAPULUH KOTA, METRO — Permintaan air nira fresh/niro segar dari Jorong Talaweh Nagari Labuah Gunuang Kecamatan Lareh Sago Halaban (Lasahan) Kabupaten Limapuluh Kota meningkat selama Ramadhan 1447 H, bahkan peningkatan permintaan itu dua kali lipat dari biasanya.
Jika sebelumnya atau sebelum Ramadhan khusus untuk Kota Padang, hanya 1 hingga 2 jirigen dilakukan pengiriman, namun saat Ramadhan, bisa dilakukan hingga 4 jirigen tiap harinya. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan dari Kota Padang, namun juga dari daerah lainnya, termasuk Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
Namun tingginya permintaan tersebut, kadang tidak bisa terpenuhi, sebab selain jadi minuman berupa Nira Segar/fresh, air dari pohon aren tersebut juga diolah menjadi produk lainnya, diantaranya gula semut, gula cair, gula enau. “Kalau Ramadhan memang terjadi peningkatan permintaan nira segar atau nira fresh, contohnya untuk Kota Padang, biasanya hanya 1 hingga 2 jirigen perhari, kini bisa mencapai 4 jirigen,”ucap Almanik, petani sekaligus perajin gula aren.
Untuk satu jiregen besar biasanya isi 30 liter, sehingga jika dikalikan empat 120 liter, itu untuk satu kali pengiriman ke Kota Payakumbuh, belum untuk Kebutuhan di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota dan daerah lainnya serta ke Kota Pekanbaru. “ Untuk ke Kota Padang bisa mencapai 120 liter dalam satu kali pengiriman, belum untuk daerah lainnya, sementara air nira juga kita buat atau olah menjadi gula aren, gula semut serta gula cair, sehingga kita kerap kewalahan memenuhi permintaan air nira,” tambahnya.
Saat ini menurut pria dengan panggilan Damanik itu, harga beli satu liter air nira mencapai Rp. 3 ribu perliter, harga tersebut terus naik sejak empat tahun terakhir. “Kita beli Rp. 3 ribu perliter, harga terus membaik tiap tahunnya sejak empat tahun lalu. Dahulu hanya Rp. 2 ribu hingga Rp. 2500,” tambahnya.
Meskipun Niro Fresh asal Jorong Talaweh telah merambah hingga ke Provinsi Riau, Damanik berharap agar Minuman tersebut bisa mendapat tempat di Pemerintahan, sehingga bisa menjadi minuman unggulan Kabupaten Limapuluh Kota.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota yang saat ini dipimpin Bupati Safni, menjadikan Air Niro sebagai minuman “wajib” untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke Kabupaten Limapuluh Kota. Sebab hal itu telah beberapa kali ia utarakan kepada Bupati maupun Ketua DPRD saat berkunjung ke tempat produksinya. Namun untuk realisasi tak kunjung terlaksana. “Kita tentu berharap agar Pemerintah Daerah menjadikan Air Niro produksi daerah kita ini menjadi minuman”wajib” yang disuguhkan kepada tamu yang berkunjung,” pintanya.
Bukan tak beralasan, sebab menurut Damanik yang kerap diajak untuk melakukan studi banding ke berbagai daerah itu. Ia melihat dukungan Pemerintah Daerah untuk promosi produk khas daerah mereka kepada tamu yang datang sangat maksimal, setiap tamu yang datang disuguhkan minuman khas daerah.
“Kita sering diajak untuk melakukan studi banding ke daerah lain, di daerah yang kita kunjungi itu Pemerintah Daerahnya melakukan promosi maksimal, produk khas daerah mereka berupa minuman disuguhkan kepada tamu yang datang, setiap tamu yang datang disuguhkan minuman khas daerah,” ceritanya.
Ia berharap hal serupa bisa dilakukan Pemerintah Daerah, baik tamu yang datang ke Kantor Bupati, Rumah Dinas, DPRS maupun ke OPD-OPD.
Salah seorang petani Aren, Mun, yang kerap menjual air nira dari pohon aren miliknya kepada Damanik, menyebutkan bahwa ia rutin menjual air nira, bahkan bisa mencapai puluhan liter per harinya. “Ramadan ini saya bisa menjual hingga 20 liter, saya lebih menjual air nira untuk dibuat nira segar ataupun gula aren karena jika dijual untuk dibuat miras jenis tuak, dilarang oleh agama, barang (air yang bersih) kenapa harus dijadikan miras,” sebutnya. (uus)





