BERITA UTAMA

Ramadan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang

11
×

Ramadan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang

Sebarkan artikel ini
Ustadz Sunnatullah

SALAH satu ajaran penting dari bulan Ramadan adalah bahwa setiap kesempatan meningkatkan ibadah kebaikan de­ngan nilai pahala yang berlipat ganda tidak selalu datang dua kali.

Sebab itu, bulan mulia ini tidak semestinya diperlakukan sebagaimana bulan-bulan yang lain, tetapi dijadikan momentum untuk membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh.

Mengapa ketakwaan menjadi poros dari seluruh ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadan? Karena takwa adalah fondasi dari segala kebaikan dan kunci keselamatan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang bertakwa akan terdorong untuk senantiasa berbuat baik, mulai dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele hingga yang besar.

Ia akan ringan tangan membantu saudaranya tanpa pamrih, menjaga lisannya agar tidak menyakiti orang lain, tidak membuang sampah sembarangan, men­jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, me­nunaikan amanah dengan jujur, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan. Semua itu merupakan buah dari ketakwaan yang hidup di dalam hati kita.

Sayyid Murtadha az-Zabidi al-Husaini mengatakan dalam kitab Ithafussadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, jilid VIII, halaman 27, artinya, “Dan takwa… karena sesungguhnya ia adalah fondasi dari segala kebaikan dan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat.”

Baca Juga  Korban Keracunan MBG di Agam Bertambah jadi 110 Orang, SPPG Kampung Tangah Dihentikan Sementara, Ditetapkan sebagai KLB, Sampel Diuji di BPOM

Dan perlu kita ingat kem­bali bahwa semua kebajikan yang kita lakukan, baik yang bernilai kecil dan cenderung dianggap sepele, hingga perbuatan besar dan membutuhkan pe­ngor­­ba­nan, semuanya akan­ dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT pada bulan Ramadan yang mulia ini.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah sa­tu hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Maka bertakwalah kalian semua pada bulan Ramadan, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan dilipatgandakan di dalamnya, demikian pula keburukan-keburukan.” (HR. At-Thabrani).

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan ke­sem­patan yang sangat berharga ini dengan penuh kesungguhan dan kesadaran. Jangan sampai kita tertipu oleh anggapan bahwa Ramadhan tahun depan pasti masih ada untuk kita. Karena tidak ada seorang pun yang mampu menjamin usianya akan sampai pada Ramadhan berikutnya.

Tidakkah kita mengambil pelajaran dari saudara, tetangga, dan banyak orang yang memiliki rencana untuk memperbaiki diri “nanti di bulan Ramadhan yang akan datang”, namun ajal lebih dahulu menjemputnya.

Baca Juga  DPRD Sumbar Apresiasi Kegiatan Kemanusiaan HUT GEKRAFS ke-7 di Huntara Limau Manis, Evi Yandri: Kepedulian untuk Warga Terdampak Bencana yang Patut Dicontoh

Maka sebelum ajal men­jemput dan sebelum pintu tobat tertutup, mari kita bergegas memperbaiki diri dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal kebajikan. Mari jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Jangan biarkan Rama­dan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berarti dalam hidup kita. Jika pada bulan Ramadhan yang di dalamnya semua amal kebajikan dilipatgandakan tidak mampu meningkatkan kualitas kita, lantas bulan apa lagi yang bisa kita nantikan?

Imam Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab La­thai­ful Ma’arif, halaman 158 Artinya, “Siapa saja yang tidak meraih keuntungan pada bulan (Ramadan) ini, maka pada kapan lagi ia akan meraih keuntungan? Sia­pa saja yang tidak men­dekat kepada Tuhannya di da­lamnya (Ramadan), ma­ka dalam keadaan jauhnya (selain Ramadan) itu ia tidak akan memperoleh keuntungan”. (**)