METRO SUMBAR

Jejak Peradaban Nabi Idris, Ketika Ilmu dan Iman Berjalan Seiring

5
×

Jejak Peradaban Nabi Idris, Ketika Ilmu dan Iman Berjalan Seiring

Sebarkan artikel ini

DI ANTARA para nabi yang namanya disebut dalam Al-Qur’an, Nabi Idris dikenal sebagai sosok yang penuh ketekunan, kecerdasan, dan kedisiplinan. Ia termasuk nabi generasi awal setelah Nabi Adam, yang diutus untuk membimbing umat manusia agar kembali kepada ajaran tauhid dan menjauhi kemaksiatan.

Nama Idris hidup di tengah masyarakat yang mulai terpengaruh oleh bisikan setan dan perilaku menyimpang. Sebagian manusia kala itu sudah mengenal berbagai bentuk kemaksiatan dan kezaliman. Di tengah kondisi tersebut, Nabi Idris berdiri tegak menyeru umatnya untuk kembali menyembah Allah semata.

Seruannya tidak selalu diterima dengan mudah. Seperti para nabi lainnya, ia menghadapi penolakan dan cemoohan. Namun, keteguhan hatinya menjadi pelajaran berharga tentang arti kesabaran dalam berdakwah.

Salah satu keistimewaan Nabi Idris adalah kemampuannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa ia termasuk orang pertama yang mengenal tulisan dan mengajarkan cara menulis kepada manusia. Ia juga diyakini sebagai pelopor dalam bidang perhitungan dan pengetahuan tentang waktu.

Ketekunan Nabi Idris dalam bekerja juga menjadi teladan. Ia tidak hanya mengandalkan mukjizat, tetapi juga berusaha dengan tangannya sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ia bekerja sebagai penjahit. Setiap kali menusukkan jarum, ia senantiasa berzikir kepada Allah.

Kebiasaan itu menunjukkan bahwa pekerjaan duniawi tidak menghalangi seseorang untuk tetap mengingat Tuhannya. Justru melalui pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan niat yang lurus, seseorang dapat meraih keberkahan.

Di tengah kesibukan dunia modern, kisah Nabi Idris mengajarkan bahwa produktivitas dan spiritualitas tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila diatur dengan niat dan manajemen waktu yang baik.

Selain itu, Nabi Idris dikenal memiliki akhlak yang lembut. Ia tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ketika menghadapi orang-orang yang menentangnya, ia memilih pendekatan yang bijak dan penuh hikmah.

Kesabarannya membuahkan hasil. Sebagian umatnya kembali kepada jalan yang benar dan meninggalkan perbuatan zalim. Meski tidak semua menerima ajarannya, ia tetap konsisten menyampaikan kebenaran.

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji Nabi Idris sebagai orang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Pujian ini menunjukkan kedudukan tinggi yang diberikan Allah kepadanya karena kejujuran dan keteguhannya.

Kejujuran menjadi salah satu sifat utama yang patut diteladani. Nabi Idris tidak pernah mencampuradukkan kebenaran dengan kepentingan pribadi. Ia menyampaikan wahyu sebagaimana yang diterimanya tanpa dikurangi atau ditambah.

Kehidupan Nabi Idris juga mengajarkan pentingnya berpikir jauh ke depan. Ia tidak hanya memikirkan generasinya, tetapi juga membangun fondasi ilmu dan keterampilan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Nabi Idris juga mengajarkan arti tanggung jawab sosial. Ia tidak hidup menyendiri, meski dikenal sebagai ahli ibadah. Ia tetap hadir di tengah masyarakat, membimbing dan memberi solusi.

Di era sekarang, banyak orang cenderung memisahkan antara urusan agama dan kehidupan sosial. Padahal, teladan Nabi Idris menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi.

Ia memperlihatkan bahwa perubahan masyarakat dimulai dari pendidikan dan pembiasaan. Dengan mengajarkan membaca, menulis, dan keterampilan, ia membangun fondasi peradaban yang beradab.

Ketekunannya dalam belajar menjadi inspirasi bahwa ilmu adalah cahaya. Dalam kondisi masyarakat yang belum maju, ia sudah menanamkan pentingnya literasi.

Ketika manusia memahami ilmu, mereka lebih mudah memahami kebesaran Allah. Dengan demikian, dakwah menjadi lebih kokoh karena didukung oleh pengetahuan.

Kisah Nabi Idris juga menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memberi contoh. Ia tidak hanya menyuruh, tetapi juga melakukan. Ia tidak hanya berbicara tentang kerja keras, tetapi juga bekerja.

Dalam setiap aspek kehidupannya, terlihat keseimbangan antara iman dan amal. Ia menjadi gambaran manusia ideal yang memadukan kecerdasan intelektual dan keteguhan spiritual.

Teladan lainnya adalah konsistensi. Nabi Idris tidak mudah goyah oleh tekanan lingkungan. Ia tetap berpegang pada prinsip meski harus menghadapi tantangan.

Dari kisahnya, pembaca diajak merenung bahwa membangun peradaban membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Tidak ada perubahan instan tanpa usaha yang terus-menerus.

Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga sikap hidup. Kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

Di tengah dunia yang serba cepat, nilai-nilai yang diwariskan Nabi Idris terasa semakin relevan. Ketekunan dalam belajar, integritas dalam bekerja, dan kesungguhan dalam beribadah menjadi fondasi kehidupan yang kokoh.

Kisahnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi masa kini. Ia mengingatkan bahwa kemajuan sejati harus dibangun di atas landasan moral dan spiritual.

Sebagai nabi yang diangkat derajatnya oleh Allah, Nabi Idris menjadi simbol bahwa ilmu dan iman adalah dua sayap yang membawa manusia menuju kemuliaan.

Melalui keteladanan Nabi Idris, generasi masa kini diajak untuk mencintai ilmu, bekerja dengan jujur, dan menjaga kedekatan dengan Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Dengan meneladani sifat-sifatnya, diharapkan lahir pribadi-pribadi tangguh yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual.

Kisah Nabi Idris akhirnya menjadi pengingat bahwa sejarah para nabi menyimpan pelajaran abadi. Di balik setiap ujian, ada keteguhan. Di balik setiap usaha, ada harapan. Dan di balik setiap keikhlasan, ada kemuliaan yang dijanjikan Tuhan. (***)