SALAH satu keluhan yang paling sering muncul saat menjalankan ibadah puasa adalah bau mulut. Kondisi ini kerap membuat seseorang merasa kurang percaya diri, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Secara medis, bau mulut saat puasa merupakan hal yang wajar. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu lama, produksi air liur menurun sehingga mulut menjadi lebih kering. Situasi ini memudahkan bakteri berkembang biak dan memicu aroma tidak sedap.
Selain faktor alami tersebut, bau mulut juga dapat diperparah oleh konsumsi makanan beraroma tajam saat sahur atau berbuka. Kondisi kesehatan tertentu seperti gangguan lambung (maag) dan diabetes juga berpotensi menyebabkan aroma napas menjadi lebih menyengat.
Untuk membantu mengatasi persoalan ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui laman resminya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (kemkes.go.id), membagikan sejumlah tips menjaga kesegaran napas selama Ramadan.
Berikut tujuh langkah yang dapat diterapkan agar bau mulut tidak mengganggu selama berpuasa:
Pertama, memperbanyak minum air mineral saat sahur dan berbuka. Disarankan mengonsumsi 2–3 gelas air pada kedua waktu tersebut. Air membantu merangsang produksi air liur secara alami, yang berfungsi membersihkan sisa makanan dan bakteri penyebab bau mulut.
Kedua, menjaga kebersihan gigi dan lidah. Menyikat gigi saja tidak cukup, karena lidah juga menjadi tempat berkumpulnya bakteri. Membersihkan lidah secara rutin dapat mengurangi sumber bau tidak sedap. Waktu yang dianjurkan untuk menyikat gigi adalah setelah sahur, setelah berbuka puasa, serta sebelum tidur malam.
Ketiga, menggunakan obat kumur antiseptik. Berkumur dengan cairan antiseptik dapat membantu membunuh bakteri dan menetralkan bau di dalam rongga mulut, sehingga napas terasa lebih segar.
Keempat, menghindari makanan beraroma tajam. Menu seperti petai, jengkol, bawang putih, dan bawang merah meninggalkan aroma kuat yang sulit hilang. Selain itu, cokelat, makanan pedas, dan tinggi lemak dapat memicu refluks asam lambung yang turut menyebabkan bau mulut. Mengganti dengan makanan beraroma netral menjadi pilihan yang lebih aman.
Kelima, tidak merokok saat sahur. Rokok membuat mulut lebih cepat kering dan menghambat produksi air liur. Akibatnya, bakteri lebih mudah berkembang. Menghindari rokok selama Ramadan membantu mengurangi risiko bau mulut sekaligus meningkatkan kesehatan secara umum.
Keenam, tidak tidur terlalu lama terutama setelah sahur. Tidur berkepanjangan dapat membuat mulut semakin kering karena produksi air liur berkurang. Sebaliknya, aktivitas ringan dapat membantu tubuh tetap memproduksi air liur yang berfungsi membersihkan rongga mulut secara alami.
Ketujuh, menerapkan pola makan sehat selama Ramadan. Konsumsi sayur, buah, dan air putih yang cukup berperan menjaga kesehatan pencernaan. Sistem pencernaan yang baik dapat mengurangi gangguan lambung yang sering menjadi pemicu bau mulut.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan percaya diri tanpa terganggu masalah bau mulut. (*/rom)






