DI TENGAH panasnya pasir Jazirah Arab, jauh sebelum cahaya Islam menerangi dunia, Makkah adalah kota dagang yang ramai namun keras oleh persaingan dan kepentingan.
Dalam kehidupan masyarakat Quraisy saat itu, kejujuran bukanlah nilai utama. Tipu daya kerap dianggap kecerdikan, dan kekuatan menjadi ukuran kebenaran.
Di tengah kondisi sosial yang demikian, lahirlah seorang pemuda yatim yang kelak mengubah arah sejarah umat manusia.
Sejak usia muda, pemuda itu telah dikenal berbeda. Ia tidak larut dalam kebiasaan buruk masyarakat sekitarnya.
Ia tidak pernah menyembah berhala, tidak mabuk, dan tidak berkata dusta, meski hidup di tengah budaya yang menganggapnya biasa.
Masyarakat Makkah kemudian menjulukinya dengan dua gelar mulia: Al-Amin dan Ash-Shadiq, orang yang dapat dipercaya dan selalu berkata jujur.
Julukan itu bukan sekadar sebutan, melainkan cermin dari kehidupan sehari-harinya.
Dalam urusan dagang, ia dikenal sangat jujur, bahkan kerap menjelaskan kekurangan barang yang dijualnya kepada pembeli.
Kejujurannya membuat orang-orang heran, sebab ia seolah merugikan dirinya sendiri demi kebenaran.
Namun justru dari situlah kepercayaan tumbuh, dan keberkahan menyertai setiap langkahnya.
Suatu ketika, ia dipercaya membawa barang dagangan milik seorang saudagar wanita terhormat ke negeri Syam.
Dalam perjalanan itu, ia menunjukkan etika dagang yang luhur dan tidak pernah berbuat curang.
Keuntungan yang dibawa pulang jauh melebihi perjalanan dagang sebelumnya.
Lebih dari itu, kabar tentang akhlaknya sampai ke telinga sang pemilik modal.
Kejujuran dan amanah itulah yang kelak mengantarkannya pada ikatan suci pernikahan.
Namun ujian kejujuran tidak berhenti di sana.
Ketika ia diangkat menjadi Rasul, kejujuran justru menjadi senjata terberat yang harus ia bawa.
Seruan tauhid yang disampaikannya mengguncang tatanan lama dan mengancam kepentingan para pembesar Quraisy.
Meski dicaci, dihina, bahkan disakiti, ia tidak pernah membalas dengan dusta atau kebencian.
Ia tetap jujur dalam menyampaikan wahyu, meski risikonya nyawa dan pengusiran.
Bahkan musuh-musuhnya pun tidak pernah mampu menuduhnya sebagai pembohong.
Ironisnya, mereka menolak ajarannya namun tetap menitipkan harta kepadanya.
Saat rencana hijrah ke Madinah disusun, rumahnya masih dipenuhi barang titipan orang-orang yang memusuhinya.
Ia tidak pergi sebelum memastikan semua amanah itu dikembalikan kepada pemiliknya.
Padahal, keselamatannya sendiri sedang terancam.
Kejujuran baginya bukan sekadar perilaku, melainkan prinsip hidup yang tak bisa ditawar.
Di Madinah, ia membangun masyarakat baru dengan fondasi kejujuran dan keadilan.
Ia mengajarkan bahwa dusta adalah akar kerusakan, sedangkan kejujuran adalah jalan keselamatan.
Dalam setiap keputusan, ia menimbang kebenaran, bukan keuntungan pribadi.
Dalam setiap perkataan, ia menjaga lisan agar tidak melukai.
Ia memberi teladan bahwa pemimpin sejati adalah yang paling dapat dipercaya.
Hingga akhir hayatnya, ia tidak meninggalkan warisan harta, melainkan warisan akhlak.
Kejujuran yang ia tanamkan terus hidup, melintasi zaman dan generasi.
Di dunia yang kini dipenuhi kepalsuan dan kepentingan, kisah hidupnya tetap relevan.
Sebab kejujuran tidak pernah usang oleh waktu.
Ia adalah cahaya bagi siapa saja yang ingin berjalan lurus di tengah gelapnya zaman.
Dan dari keteladanannya, kita belajar bahwa kejujuran adalah jalan paling dekat menuju ridha Allah. (***)






