MENGAJARKAN anak berpuasa di bulan suci Ramadhan menjadi momen penting bagi orang tua Muslim. Meski anak yang belum balig belum diwajibkan menjalankan ibadah puasa, pembiasaan sejak dini dinilai mampu membantu anak memahami makna ibadah sekaligus melatih kedisiplinan secara bertahap.
Namun demikian, proses mengenalkan puasa kepada anak tidak dapat dilakukan secara instan. Anak masih berada dalam fase tumbuh kembang, baik secara fisik maupun psikologis, sehingga diperlukan pendekatan yang tepat agar puasa menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan beban.
Berdasarkan artikel How to Care for the Fasting Child yang dirilis Baylor College of Medicine, anak-anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan saat berpuasa dibandingkan orang dewasa. Oleh sebab itu, orang tua perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, serta kemampuan anak dalam menahan lapar dan haus sebelum mengajaknya berpuasa.
“Orang tua sebaiknya memahami batas kemampuan anak dan tidak memaksakan puasa penuh jika kondisi fisik belum memungkinkan,” tulis Baylor College of Medicine dalam artikelnya.
Untuk membantu anak lebih siap menjalani puasa pertamanya, berikut tujuh tips yang dapat diterapkan orang tua selama bulan Ramadhan.
Pertama, sesuaikan dengan usia anak. Setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. Anak di bawah usia tujuh tahun umumnya masih berada dalam fase perkembangan kognitif awal. Pada tahap ini, cara paling efektif adalah dengan memberi contoh langsung dan mengajak anak meniru kebiasaan orang tua. Gunakan bahasa sederhana dan penuh empati, serta hindari penjelasan yang terlalu rumit.
Kedua, perhatikan asupan makanan bergizi. Nutrisi yang tepat saat sahur dan berbuka sangat berperan dalam menjaga stamina anak. Orang tua dianjurkan memilih makanan tinggi serat dan protein agar anak merasa kenyang lebih lama. Konsumsi gula berlebih sebaiknya dikurangi karena dapat menyebabkan energi cepat naik lalu turun drastis. Selain itu, pastikan anak mendapatkan asupan cairan yang cukup antara waktu berbuka hingga sahur.
Ketiga, lakukan latihan puasa secara bertahap. Tidak semua anak mampu langsung menjalani puasa sehari penuh. Orang tua bisa memulai dengan puasa setengah hari atau beberapa jam terlebih dahulu. Seiring waktu dan adaptasi fisik, durasi puasa dapat ditambah secara perlahan sesuai kemampuan anak.
Keempat, ajak anak memantau perkembangannya. Membuat kalender puasa sederhana dan memberi tanda atau stiker setiap kali anak berhasil mencapai target puasanya dapat meningkatkan motivasi. Cara ini juga membuat anak merasa bangga terhadap pencapaiannya selama Ramadhan.
Kelima, libatkan anak dalam aktivitas Ramadhan. Suasana Ramadhan akan terasa lebih bermakna jika anak ikut dilibatkan, seperti membantu menyiapkan menu berbuka, menata meja makan, atau mempersiapkan perlengkapan ibadah. Dengan merasa memiliki peran, anak akan lebih antusias menjalani puasa.
Keenam, hindari aktivitas fisik yang terlalu berat. Saat berpuasa, anak sebaiknya diarahkan pada kegiatan ringan seperti membaca buku, menggambar, atau bermain di dalam rumah. Hal ini membantu menjaga energi agar anak tetap kuat hingga waktu berbuka.
Ketujuh, alihkan perhatian saat anak mulai merasa lelah. Rasa lapar dan haus biasanya mulai terasa di siang hari. Orang tua dapat mengalihkan perhatian anak dengan mengajak tidur siang, bercerita, atau melakukan permainan ringan. Aktivitas menyenangkan akan membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
Dengan pendekatan yang tepat dan penuh kesabaran, orang tua dapat menjadikan puasa sebagai pengalaman positif bagi anak, sekaligus menanamkan nilai ibadah dan kedisiplinan sejak usia dini. (*/rom)






