BERITA UTAMA

Memimpin di Tengah Krisis Bencana

2
×

Memimpin di Tengah Krisis Bencana

Sebarkan artikel ini

Di balik angka statistik tersebut, publik melihat dimensi kepemimpinan lebih personal. Mahyeldi bukan figur baru dalam manajemen krisis. Sejak gempa 30 September 2009 saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota Padang,Mahyeldi telah terbiasa berada di garis depan pe­na­nganan ben­ca­na berskala na­sio­nal.

Saat men­jadi Wali Kota Padang, ia me­ng­hadapi banjir besar setiap ta­hun. Mahyeldi me­mahami sta­bilitas ko­man­do dan ke­jelasan arah men­jadi kun­ci. Keputusan ha­­rus cepat, te­tapi tetap terukur dan ber­basis data. Pe­nga­laman pan­jang inilah yang membuatnya tidak mudah ter­guncang ketika Sumbar kembali menghadapi bencana.

Namun sorotan tertuju pada Vasko. Datang dari ibu kota dengan latar belakang jejaring nasional, awalnya ada keraguan publik. Apa­kah figur muda dari Jakarta ini siap menghadapi kompleksitas bencana Sumbar? Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Vasko tidak terlihat gamang.

Dalam berbagai dokumentasi media, ia tampak menikmati ke­hadirannya di tengah warga, tidur di tenda bersama pengungsi, mem­bawa kendaraan sendiri tanpa protokoler berlebihan di tengah situasi bencana. Vasko tidak berdiri di belakang meja tapi berbicara langsung dengan warga. Di tengah krisis besar di awal masa ja­batannya, ia justru terlihat mene­mukan jati dirinya.

Jejaring nasional yang di­milikinya di pemerintah pusat, relawan, dan figur publik nasional berhasil dimobilisasi membantu Sumbar. Bantuan datang lebih cepat, dukungan meluas.