BERITA UTAMA

Krisis Berulang dan Tekanan Fiskal Daerah

3
×

Krisis Berulang dan Tekanan Fiskal Daerah

Sebarkan artikel ini

Ketahanan sosial yang terjaga dibangun di atas struktur fiskal daerah yang mengalami tekanan serius. Bencana tahun 2024 mening­galkan konsekuensi anggaran tidak kecil. Kebutuhan pembiayaan yang besar itu sepenuhnya tertangani, ketika tahun 2025 kembali terjadi bencana dengan intensitas lebih luas.

Di satu sisi, belanja tanggap darurat harus segera dicairkan untuk evakuasi, logistik, hu­nian sementara, serta pe­mu­lihan laya­nan dasar. Di sisi lain, kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi in­fras­truktur memer­lukan alokasi ang­garan jangka menengah.  Di saat yang sama, pemerintah da­erah­berke­wajiban membiayai program pem­bangunan rutin seperti pendidikan, keseha­tan,pengentasan kemiskinan, serta belanja pegawai dan pela­yanan publik lainnya.

Tekanan ini diperberat ruang fiskal daerah yang terbatas, ditam­bah pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah. Struktur APBD sebagian besar telah terikat belanja wajib dan me­ngi­kat, sehing­ga fleksibilitas realokasi terbatas. Bencana juga ber­potensi menekan sisi pe­nerimaan daerah, baik per­lam­batan aktivitas ekonomi, maupun ter­gang­gunya basis pajak dan retribusi.

Langkah percepatan penyu­sunan dokumen ren­cana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sangat strategis. Penyusunan yang cepat, berbasis data kerusakan terverifikasi, serta diselaraskan standar kementerian teknis, menun­jukkan kesiapan administratif dan kapasitas kelembagaan yang ma­tang.

Kesiapan teknokratik saja tidak cukup. Tanpa dukungan fiskal memadai, baik melalui transfer pusat, skema pembiayaan khusus, maupun dukungan kementerian/lembaga terkait, proses rehabilitasi dan rekonstruksi berisiko berjalan lambat dan berdampak tertundanya pe­mulihan infrastruktur, serta­meng­ham­bat percepatan pemulihan ekonomi.

Tekanan fiskal akibat krisis berulang ini harus dibaca sebagai isu strategis lintas level pe­me­rintahan.Ketahanan sosial perlu ditopang ketahanan fiskal lebih kuat. Sinergi pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota men­jadi krusial.