Data makro Sumbar 2025 memperlihatkan paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 3,37 persen (c-to-c), lebih rendah dibandingkan 2024. Kondisi normal dimaknai pelemahan aktivitas ekonomi. Namun dalam konteks Sumbarmengalami kerusakan infrastruktur, gangguan distribusi, serta disrupsi sektor produktif akibat bencana, faktanya, meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, indikator kesejahteraan justru membaik.
Tingkat kemiskinan turun dari 5,42 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025. Capaian ini menjadikan Sumbarmasuk delapan terbaik nasional, jauh di bawah rata-rata nasional 8,25 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 315 ribu jiwa menjadi 312,30 ribu jiwa. Penurunan ini terjadi meskipun garis kemiskinan naik Rp776.517 per kapita per bulan atau meningkat 6,40 persen akibat kenaikan harga komoditas makanan.
Di saat yang sama, pengeluaran riil per kapita Rp12,04 juta per tahun atau tumbuh 2,76 persen, menandakan daya beli tetap terjaga. Kondisi pasar kerja juga relatif stabil. Jumlah penduduk bekerja mencapai 3,07 juta orang, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun dari 5,69 persen pada 2024 menjadi 5,52 persen, pada 2025. Kualitas pekerjaan membaik, dengan meningkatnya proporsi pekerja penuh dan formal.
Perbaikan diperkuat distribusi pendapatan yang merata. Gini Ratio membaik dari 0,287 pada 2024 menjadi 0,280 pada 2025, menjadikannya tujuh terbaik nasional, lebih rendah dari rata-rata nasional 0,363. Ini menunjukkan pertumbuhan tetap inklusif meskipun melambat. Struktur ketenagakerjaan turut mengonfirmasi karakter tersebut.
Sektor pertanian menyerap 35,08 persen tenaga kerja, perdagangan kecil dan eceran 18,57 persen dengan tambahan 38,25 ribu pekerja pada 2025, diikuti akomodasi danmakan minum 8,83 persen serta industri pengolahan 7,79 persen. Di sisi kualitas manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 76,43 pada 2024 menjadi 77,27 pada 2025, menempatkannya enam terbaik nasional di atas rata-rata nasional 75,90. Capaian ini ditopang peningkatan umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran riil.
Meskipun pertumbuhan ekonomi 2025 tertahan dampak bencana, fondasi sosial-ekonomi Sumbar tetap bekerja secara inklusif. Refleksi satu tahun kepemimpinan Mahyeldi-Vasko menunjukkan, stabilitas kesejahteraan dapat dijaga dalam situasi tekanan eksternal yang berat.
Secara agregat, konfigurasi indikator ini menggambarkan satu pola yang jelas: fase satu tahun pertama pemerintahan Mahyeldi-Vasko lebih berorientasi stabilisasi sosial-ekonomi dan penguatan fondasi struktural, dibandingkan akselerasi pertumbuhan yang agresif.
Dalam perspektif pembangunan daerah, pendekatan ini dikategorikan strategi konsolidatif. Ketika daerah menghadapi tekanan eksternal dan bencana berulang, menjaga stabilitas sosial, menekan kemiskinan, mengendalikan penganggura dan memperbaiki distribusi pendapatan menjadi prioritas yang rasional.
Tahun pertama kepemimpinan Mahyeldi-Vasko sebagai fase stabilisasi sosial-ekonomi di tengah krisis, bukan fase ekspansi pertumbuhan. Tantangan ke depan, bagaimana fondasi yang diperkuat ini menjadi basis fase akselerasi berikutnya. Perlambatanpertumbuhan ekonomi perlu direspons melalui peningkatan investasi, percepatan proyek strategis, hilirisasi sektor unggulan, serta penguatan konektivitas dan daya saing regional.






