BERITA UTAMA

Menjaga Dua Kehidupan, Panduan Sehat Ibu Hamil Menjalani Puasa

8
×

Menjaga Dua Kehidupan, Panduan Sehat Ibu Hamil Menjalani Puasa

Sebarkan artikel ini
Dr. dr. Dovy Djanas, SpOG, Subsp. KFm, MARS, FISQua (Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil)

BEBERAPA hari menjelang Ramadhan, hampir setiap ibu hamil yang datang ke poliklinik menanyakan hal yang sama, “Bolehkah ibu hamil berpuasa?”. Ramadhan selalu hadir membawa suasana spiritual yang hangat, penuh refleksi, sekaligus harapan baru. Namun ba­gi sebagian perempuan, bulan suci ini juga datang bersamaan dengan perjalanan besar dalam hi­dup­nya — masa kehamilan, tumbuhnya kehidupan baru yang harus dijaga.

Secara medis dan agama, jawabannya tidak bisa disamaratakan, melainkan tergantung kondisi masing-masing ibu dan janinnya. Kehamilan bukan kondisi sakit, tetapi juga bukan kondisi biasa. Ada ibu yang mampu menjalani puasa dengan nyaman, namun ada pula yang justru berisiko jika memaksakan diri. Karena itu, keputusan berpuasa sebaiknya bersifat individual, mempertimbangkan kondisi ibu, usia kehamilan, serta kesehatan janin.

Dalam perspektif Islam, kehamilan mengajarkan keseimbangan. Artinya, menjaga kesehatan ibu dan bayi adalah bagian dari ibadah. Ketika seorang ibu tidak berpuasa karena alasan medis, itu bukanlah kekurangan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap amanah kehidupan.

Berbagai penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir memberikan gambaran yang cukup menenangkan. Kajian sistematik menunjukkan bahwa puasa Ramadhan pada ibu hamil yang sehat tidak secara konsisten meningkatkan risiko persalinan prematur maupun berat badan lahir rendah. Namun demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa setiap kehamilan bersifat unik dan memerlukan pemantauan.

Artinya, bagi sebagian besar ibu hamil yang sehat, puasa dapat dijalani dengan aman, selama dilakukan dengan strategi dan pemantauan yang tepat. Beberapa kondisi yang umumnya tidak dianjurkan untuk berpuasa antara lain: anemia berat, diabetes saat hamil (diabetes gestasional) yang belum terkontrol, mual muntah berat selama hamil (hiperemesis gravidarum), gangguan pertumbuhan janin, riwayat hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia), atau kondisi kehamilan risiko tinggi lainnya. Karena itu, berkonsultasi dengan dokter atau bidan sebelum memulai puasa sangat dianjurkan.

Selama kehamilan, tubuh bekerja lebih keras dari biasanya. Saat puasa berlangsung lebih dari 12 jam, tubuh mengalami penyesuaian, antara lain: Cadangan gula darah lebih cepat berkurang, sehingga ibu mudah lemas, Risiko dehidrasi meningkat, Asam lambung mudah naik dan memicu mual, Pola tidur berubah akibat sahur dan ibadah malam.

Perubahan ini bersifat normal, tetapi perlu disikapi bijak agar tidak mengganggu kesehatan ibu dan janin. Ibu hamil harus tetap memperhatikan tanda bahaya seperti pingsan, muntah terus-menerus, urine sangat pekat, atau gerakan janin berkurang.

Panduan Praktis Puasa Aman untuk Ibu Hamil

Sahur Jangan Dilewatkan. Sahur bukan sekedar makan dini hari, tapi merupakan sumber energi utama sepanjang hari. Pilih makanan dengan kombinasi karbohidrat kompleks (nasi merah, oat, roti gandum), protein (telur, ikan, ayam, tahu-tempe), buah dan sayur tinggi serat, serta lemak sehat. Menu ini membantu gula darah tetap stabil dan mencegah rasa lemas berlebihan.

Cukupi Cairan. Dehidrasi adalah masalah paling sering terjadi. Batasi minuman manis berlebihan dan kafein. Terapkan pola sederhana: 2 gelas saat berbuka – 4 gelas malam hari – 2 gelas saat sahur,

Berbuka secara Bertahap.

Awali dengan air putih, kurma, sup hangat, atau buah. Setelah salat Maghrib, lanjutkan makanan utama secara perlahan agar tubuh beradaptasi dan terhindar dari lonjakan gula darah serta rasa penuh mendadak (begah).

Batasi Gorengan dan Makanan Terlalu Pedas.

 Makanan tinggi lemak memang menggoda, namun dapat memperberat keluhan maag, mual, dan rasa tidak nyaman pada lambung.

Istirahat yang Cukup.

Waktu untuk tidur mungkin berkurang selama Ramadhan. Tidur siang singkat 20–30 menit dapat membantu untuk memulihkan energi.

Keselamatan ibu dan janin selalu menjadi prioritas. Puasa sebaiknya segera dibatalkan bila muncul: Pusing berat atau hampir pingsan, Lemas ekstrem, Mual muntah terus-menerus, Kontraksi nyeri, Gerak janin berkurang, Urine sangat pekat atau tidak buang air kecil dalam waktu lama.

Tubuh sering memberi sinyal lebih dahulu. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.

Kehamilan bukan perjalanan seorang ibu saja. Dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan ibu hamil menjalani Ramadhan dengan nyaman. Ayah dapat membantu menyiapkan sahur, mengingatkan ibu minum, serta memberi ruang istirahat yang cukup. Anak-anak dan anggota keluarga pun bisa belajar bahwa menjaga ibu adalah bagian dari ibadah.

“Puasa bukan tentang memaksakan diri, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan. Dalam kehamilan, menjaga ibu berarti menjaga dua kehidupan sekaligus.”

Di lingkungan sekitar, sering muncul penilaian terhadap ibu hamil: ada yang dianggap kuat karena tetap berpuasa penuh, ada yang merasa bersalah ketika harus berbuka. Padahal, setiap kehamilan berbeda. Keputusan terbaik adalah keputusan yang menjaga keselamatan ibu dan bayi.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa pilihan ibu hamil — apakah berpuasa penuh, sebagian, atau tidak berpuasa — semuanya dapat menjadi pilihan yang benar jika didasarkan pada pertimbangan medis yang tepat.

Ramadhan mengajarkan kesabaran, empati, dan kebijaksanaan. Bagi ibu hamil, bulan suci ini bisa menjadi momen untuk lebih mendengarkan tubuh dan menghargai proses kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahim.

Sebagai dokter Obstetri dan Ginekologi, kami percaya bahwa kesehatan dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Ibu yang menjaga dirinya dengan baik sesungguhnya sedang memberikan hadiah pertama bagi anaknya: awal kehidupan yang sehat.

Semoga Ramadhan kali ini membawa keberkahan bagi seluruh keluarga — anak, ibu, ayah, hingga generasi yang akan lahir. Karena pada akhirnya, Ramadhan bukanlah perlombaan siapa yang paling kuat menahan lapar, tetapi marilah kita bijak dalam menjaga amanah Allah, termasuk amanah kehidupan di dalam rahim.

Referensi Ilmiah Singkat

AlTaiar, A., Rahman, M.E., Salama, M., Ziyab, A.H. and Karmaus, W., 2025. Impacts of Ramadan fasting during pregnancy on pregnancy and birth outcomes: An umbrella review. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 169(3), pp.968-978.

Muhamad Shabudin, N.S., Azlan, S., Zulkifli, N.W. and Nik Mustaffa Shapri, N.A.N., 2024. Knowledge, attitudes and practices of ramadan fasting in healthy muslim pregnant women in Selangor. International Journal of Pharmaceuticals, Nutraceuticals and Cosmetic Science (IJPNaCS), 7(Suppl1), pp.18-33.