PENDERITA diabetes tetap dapat menikmati menu berbuka puasa yang manis tanpa khawatir terjadi lonjakan gula darah. Kuncinya terletak pada pemilihan jenis makanan, pengaturan porsi, serta urutan berbuka puasa yang tepat agar kondisi tubuh tetap stabil setelah seharian menahan lapar dan haus.
Dokter spesialis gizi klinik, Raphael Kosasih, membagikan panduan praktis bagi penderita diabetes agar tetap sehat selama menjalani ibadah puasa Ramadhan. Menurutnya, rasa manis tidak harus dihindari sepenuhnya, asalkan dikonsumsi dengan cara yang benar.
“Nah, kalau berbuka puasa, saya sarankan untuk minum satu gelas air. Atau bisa diganti dengan satu gelas air kelapa murni, tanpa tambahan gula,” ujar dr. Raphael, dikutip dari akun TikTok mganiknutrition, Jumat (20/2).
Ia menjelaskan, memulai berbuka dengan cairan yang tepat membantu tubuh beradaptasi setelah berpuasa. Air putih atau air kelapa murni dinilai aman karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.
Jika ingin mengonsumsi makanan manis, dr. Raphael menyarankan untuk memilih buah-buahan manis yang tinggi serat, seperti kurma, apel, pir, buah naga, atau jambu. Kandungan gula alami dalam buah tersebut disertai serat yang dapat memperlambat penyerapan gula ke dalam darah.
“Apabila ingin mengonsumsi buah yang agak manis, saya sarankan untuk mengombinasikannya dengan buah yang lebih tawar atau tinggi serat, seperti alpukat atau salak, supaya dapat menetralisir lonjakan gula darah,” jelasnya.
Setelah mengonsumsi buah sebagai takjil, penderita diabetes dianjurkan untuk mengonsumsi makanan utama dengan gizi seimbang. Menu berbuka sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta sayuran sebagai sumber serat agar energi tubuh tetap stabil.
Menurut dr. Raphael, setelah salat Tarawih, camilan masih boleh dikonsumsi selama dipilih dengan tepat. “Apabila setelah salat Tarawih masih ingin camilan, saya sarankan mengonsumsi buah atau protein nabati,” ujarnya.
Beberapa pilihan camilan sehat yang direkomendasikan antara lain kacang hijau, biji-bijian, kacang-kacangan, hingga edamame. Jenis camilan ini relatif aman karena tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan.
Selain jenis makanan, waktu konsumsi juga menjadi perhatian penting. “Camilan malam sebaiknya dikonsumsi sekitar satu hingga dua jam sebelum tidur. Jadi kalau mau tidur pukul 10 malam, camilan terakhir sebaiknya sekitar pukul 8 atau 9 malam,” tegasnya.
Dengan mengikuti panduan tersebut, penderita diabetes diharapkan tetap dapat menjalani puasa Ramadhan dengan nyaman dan aman, sekaligus tetap menikmati sajian berbuka yang manis namun lebih sehat. (*/rom)






