SAWAHLUNTO, METRO— Warga Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran, Kecamatan Barangin, Sawahlunto menggelar tradisi bakaru, berdoa untuk keselamatan masyarakat nagari menyambut bulan Ramdhan 1447 H.
Bakaru digelar di Balairung Situs Balai Batu Sandaran, tempat bersidang datuak nan sambilan di Nagari.
Bakaru dibuka dengan petatah petitih adat yang disampaikan pemuka adat dan berlanjut penyampaian harapan nagari disampaikan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kajai, Yusrizal Datuak Pono Kayo.
Sambil berdiri, doa harapan dilafalkan para yang hadir dalam bentuk barzanji. Doa-doa dan pujian dilafalkan dengan lantunan irama.
“Bakaru sudah menjadi tradisi tahunan warga kami setiap menyambut bulan suci Ramadhan. Memanjatkan doa dan harapan agar masyarakat kami selamat dan sehat selalu,” ujar Yusrizal Datuak Pono Kayo.
Peserta bakaru, disajikan minum kopi dengan tampuruang atau batok kelapa. Seluruh lapisan masyarakat Desa Balai Batu Sandaran, anak-anak, orang tua, tokoh masyarakat seperti Ketua KAN, ninik mamak, bundo kanduang dan alim ulama menjalankan peran masing-masing di tradisi bakaru itu.
Camat Barangin, Irma Mulyadi yang hadir di bakaru itu mengatakan, tradisi ini selain memiliki nilai budaya juga nilai agama yang punya khasanah. “Kami sangat mengapresiasi kedua nilai-nilai ini masih tetap dijunjung warga Desa Balai Batu Sandaran,” sebut Irma.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sawahlunto Guspriadi, saat itu mewakili walikota mengemukakan, tradisi bakaru di Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran ini satu diantara warisan budaya tak benda (WBTB) nasional di Sawahlunto.
“Kami mengimbau kepada semua pihak menyusun rencana aksi tindak lanjut agar tradisi bakaru dikemas menjadi paket wisata budaya edukatif,” sebut Guspriadi.
Bakaru Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran ditandai makan bajamba dan diakhiri dengan bapuau. Bapuau, saling melempar potongan batang pisang antara Suku Caniago dengan Suku Piliang. (pin)






