BERITA UTAMASAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Sambut Ramadhan 1447 H, Warga Nagari Kajai Sawahlunto Gelar Tradisi Bakaru

0
×

Sambut Ramadhan 1447 H, Warga Nagari Kajai Sawahlunto Gelar Tradisi Bakaru

Sebarkan artikel ini
TRADISI BAKARU—Bakaru Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran ditandai makan bajamba dan diakhiri dengan bapuau. Bapuau, saling melempar potongan batang pisang antara Suku Caniago dengan Suku Piliang.

SAWAHLUNTO, METRO— Warga Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran, Kecamatan Barangin, Sa­wahlunto menggelar tradisi bakaru, berdoa untuk keselamatan masyarakat nagari menyambut bulan Ramdhan 1447 H.

Bakaru digelar di Ba­lairung Situs Balai Batu Sandaran, tempat bersidang datuak nan sambilan di Nagari.

Bakaru dibuka dengan petatah petitih adat yang disampaikan pemuka adat dan berlanjut penyampaian harapan nagari disampaikan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kajai, Yusrizal Datuak Pono Kayo.

Sambil berdiri, doa ha­rapan dilafalkan para yang hadir dalam bentuk barzanji. Doa-doa dan pujian dilafalkan dengan lantunan irama.

“Bakaru sudah menjadi tradisi tahunan warga kami setiap menyambut bulan suci Ramadhan. Memanjatkan doa dan ha­rapan agar masyarakat kami selamat dan sehat selalu,” ujar Yusrizal Da­tuak Pono Kayo.

Peserta bakaru, disajikan minum kopi dengan tampuruang atau batok kelapa. Seluruh lapisan masyarakat Desa Balai Batu Sandaran, anak-anak, orang tua, tokoh ma­sya­rakat seperti Ketua KAN, ninik mamak, bundo kan­duang dan alim ulama menjalankan peran masing-masing di tradisi bakaru itu.

Camat Barangin, Irma Mulyadi yang hadir di bakaru itu mengatakan, tradisi ini selain memiliki nilai budaya juga nilai aga­ma yang punya khasa­nah. “Kami sangat mengapresiasi kedua nilai-nilai ini masih tetap dijunjung warga Desa Balai Batu Sandaran,” sebut Irma.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sa­wahlunto Guspriadi, saat itu mewakili walikota me­ngemukakan, tradisi bakaru di Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran ini satu diantara warisan budaya tak benda (WBTB) nasional di Sawahlunto.

“Kami mengimbau kepada semua pihak menyu­sun rencana aksi tindak lanjut agar tradisi bakaru dikemas menjadi paket wisata budaya edukatif,” sebut Guspriadi.

Bakaru Nagari Kajai, Desa Balai Batu Sandaran ditandai makan bajamba dan diakhiri dengan bapuau. Bapuau, saling melempar potongan batang pisang antara Suku Caniago de­ngan Suku Piliang. (pin)