DALAM perjalanan sejarah Islam, terdapat banyak peristiwa yang sarat pelajaran moral dan spiritual. Salah satu kisah paling menyentuh hati adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke kota Thaif, sebuah episode pahit yang justru memancarkan keteladanan luar biasa.
Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau Tahun Kesedihan. Pada masa itu, Rasulullah kehilangan dua sosok pelindung sekaligus: istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Dalam kondisi duka mendalam dan tekanan dakwah yang semakin berat di Makkah, Rasulullah memutuskan pergi ke Thaif. Harapannya sederhana, agar penduduk kota itu mau menerima Islam atau setidaknya memberi perlindungan bagi dakwah.
Dengan berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah menempuh perjalanan sekitar 80 kilometer dari Makkah ke Thaif. Perjalanan itu bukan sekadar fisik, tetapi juga perjalanan penuh pengharapan.
Setibanya di Thaif, Rasulullah menemui para pemuka kabilah Tsaqif. Namun, harapan itu pupus. Bukannya menerima dakwah, mereka justru mengejek dan mengusir beliau.
Penolakan itu tidak berhenti pada kata-kata. Para pemuka Thaif menghasut anak-anak dan budak untuk melempari Rasulullah dengan batu. Jalanan kota berubah menjadi saksi kekejaman manusia terhadap utusan Tuhan.
Batu-batu itu menghantam kaki Rasulullah hingga berdarah. Sandal beliau dipenuhi darah, dan tubuhnya dipenuhi luka. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah, hingga kepalanya pun terluka.
Dalam kondisi demikian, Rasulullah tidak membalas dengan amarah. Beliau menjauh dan berlindung di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah, dua orang Quraisy yang menyaksikan kejadian itu.
Di bawah naungan pohon anggur, Rasulullah mengangkat tangan dan memanjatkan doa yang terkenal sepanjang sejarah. Bukan doa kebinasaan, melainkan doa pengaduan kepada Allah atas kelemahan diri dan kerasnya manusia.
Doa itu menggambarkan ketundukan total kepada Allah. Rasulullah tidak menyalahkan manusia, tidak pula memohon balas dendam, tetapi memohon petunjuk dan kasih sayang.
Pada saat itulah malaikat Jibril datang bersama Malaikat Penjaga Gunung. Mereka menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung besar.
Tawaran itu secara manusiawi sangat masuk akal. Setelah luka fisik dan batin yang begitu dalam, balasan setimpal seolah pantas diberikan.
Namun jawaban Rasulullah justru menggetarkan langit dan bumi. Beliau menolak tawaran tersebut.
Dengan penuh kelembutan, Rasulullah berkata bahwa beliau berharap dari keturunan penduduk Thaif akan lahir orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
Sikap ini menunjukkan puncak akhlak seorang nabi. Dalam kondisi terluka, beliau tetap memikirkan masa depan manusia, bukan kepentingan pribadi.
Rasulullah mengajarkan bahwa dakwah bukan tentang kemenangan sesaat, melainkan tentang kesabaran jangka panjang dan cinta kepada sesama.
Tahun-tahun berlalu, dan doa Rasulullah itu terbukti. Penduduk Thaif akhirnya memeluk Islam secara sukarela, tanpa paksaan dan tanpa pertumpahan darah.
Dari kisah ini, umat Islam belajar bahwa kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan sejati.
Rasulullah juga mengajarkan bahwa memaafkan di saat mampu membalas adalah puncak kemuliaan akhlak.
Di tengah dunia modern yang penuh konflik, kisah Thaif menjadi cermin bagi kita semua untuk mengedepankan empati, dialog, dan harapan.
Luka Rasulullah di Thaif mungkin telah lama sembuh, tetapi keteladanan akhlaknya terus hidup dan menjadi cahaya bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Kisah ini mengingatkan bahwa kebaikan sejati sering lahir dari penderitaan yang dijalani dengan keikhlasan dan keimanan yang kokoh. (***)






