Oleh: Pinto Janir (Sastrawan)
PUASA adalah jalan indah untuk mendekatkan hati dan jiwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga pada siang hari, tetapi adalah untuk menaklukkan ego kita yang kadang-kadang sering merasa paling benar sendiri sehingga lupa untuk bertenggang rasa.
Sehingga, kita lupa melihat kiri kanan, apakah ada orang ‘naq katalantuang dek ka naik dan nan katasingguang dek ka turun.
Puasa mengajarkan kita bahwa manusia tidak hanya hidup dari hal ihwal yang mengenyangkan raganya saja , melainkan dari apa yang mampu menghidupkan ruh di bilik nurani.
Dalam lapar dan dahaga, mengapa kita tidak mencoba membuka tirai rahasia dari makna ilahiyah yang tersuruk di sana ? Untuk apa kita “menahan”. Apa benar yang kita dapatkan di sana?
Apa maknanya? Adalah makna yang mengajari kita tentang segala batas dan keterbatasan. Ya, tentang batas dan keterbatasan kita selaku makhluk ciptaanNya. Tidakkah kita sadar bahwa kita adalah insan yang rapuh tanpa iman. Bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Bahwa kesombongan hanyalah ilusi yang mudah runtuh oleh seteguk air.
Ramadan datang bukan untuk menambah gaduh dunia. Ia datang, justru untuk meredamnya. Ia datang untuk menurunkan volume amarah nan kadangkala lebih kuat pula dari amuk badai di langit yang paling gelap .
Ramadan datang untuk memperlambat lidah yang terkadang acap dan mudah benar menghakimi orang lain. Ramadan datang untuk menumpulkan lidah yang mengoyak-ngoyak dan mencabik-cabik hati dan hulu jantung orang lain.
Ia datang untuk melembutkan hati kita.Ia datang untuk membawa kita ke jalan yang lebih terang benderang dalam segala ridhoNya. Dan, ia datang untuk menguji hati yang gemar menyimpan dendam dan rasa benci serta iri dengki.
Di bulan ini, iman tidak diukur dari siapa yang paling keras bersuara. Siapa yang paling tajam bicara. Siapa yang merasa paling menang dan paling benar di di meja perdebatan kita.Tidak. Tidak begitu. Akan tetapi dari seberapa dalam kita mampu menata jiwa sesuai perintahNya—dengan N yang huruf besar. Bukan sesuai perintah “dia” dengan “d” yang huruf kecil.
Iman tidak pernah diukur dari siapa siapa yang paling tampak saleh.Atau siapa-siapa yang tampak seperti orang saleh, atau seolah-olah saleh, tapi melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh membersihkan batinnya dari segala noda-noda kumuh yang selama ini mungkin saja bersemayam di hati dan di pikiran kita.
Di bulan puasa ini, mengapa kita tidak meredakan segala kemarahan dan kebencian itu? Mengap akita tidak menahan? Mengapa kita masih sibuk juga baru, mengungkit-ungkit,menguak-nguak,mencari-cari kesalahan orang lain yang notabenenya “saudara” kita sendiri.
Terkadang, kita lebih gemar dan lebih candu, serta tergila-gila menggali-gali dan mencari-cari kesalahan orang lain ketimbang mencari jalan kebenaran Ilahi. mengapa tepuk tangan kita makin keras. Sorak-sorai makin hiruk pikuk. Telunjuk saling tunjuk dan makin tajam saling menyalahkan. Ujungnya; perselisihan yang tak pernah reda.
Mempermalukan orang lain,kadang-kadang, seakan-akan adalah sebuah prestasi. Kemudian menjelma menjadi kebanggaan. Di atas mimbar ‘kesesatan’ di tangannya terkepal kertas-kertas yang ia sebut-sebut sebagai bukti dari rupa-rupa kesalahan. Orang-orang bertepuk tangan. Ia menepuk dada seraya bicara sendiri :” aku hebat !”.
Ia permalukan orang lain semalu-malunya.Ia hinakan orang lain sehina-hinanya. Ia Binatang-binatangkan orang lain sebinatang-binatangnya. Agah hatinya, ia mulai lupa, bahwa aku ,kau dan dia adalah sama-sama manusia. Sama-sama makhluk ciptaanNya.
Pada bulan puasa ini, barangkali inilah momen yang tepat untuk meredam dendam yang diam-diam menggerogoti ruang damai di hati. Kita sunyikan ia sesunyi-sunyinya sunyi . Kita rindukan ia serindu-rindunya rindu dengan amal-amal kebaikan.
Barangkali. Ya, barangkali, inilah saatnya ibadah menjadi lebih dari sekadar kewajiban . Kita perpanjang dan kita perbanyak sujud kepada Ilahi. Kita lembutkan hati yang membatu dengan segala doa.
Daripada kita berketerusan nyinyir yang mengeraskan dan menggalaukan hati, lebih baik kita memperbanyak zikir yang menenangkan jiwa. Daripada menyulut api perselisihan di dada, lebih mulia bila kita menyalakan suluh kasih dan sayang penerang jalan kehidupan menuju maqom kebahagiaan sejati. Yakni, kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kita jadikan Ramadan sebagai bulan totalitas dalam beribadah. Bukan dengan setengah hati. Bukan pula sekadar menjalankan rutinitas belaka . Tapi, total dalam memperbaiki diri. Total dalam memohon ampun kepadaNya. Total pula dalam menyebarkan rahmat kepada sesama.
Hakekat puasa bukan hanya untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala apa yang menyakiti.Dan, dari segala apa-apa yang merendahkan . Dengan puasa, barangkali kebencian itu bisa kita lepaskan sedikit demi sedikit. Kita lenyapkan segala permusuhan dan pertikaian. Kita hidupkan segala kasih sayang dan tenggang rasa.
Hidup ini, tak selama dan tak sepanjang harapan yang hidup dalam pikiran kita. Ia, bahkan teramat pendek. Terlalu sia-sia rasanya bila hidup yang singkat dan pendek ini kita jalankan dengan laku dan perbuatan percuma yang membuang-buang waktu dan usia.
Sebelum sesal tiba, tak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk merenung sampai kita tahu, untuk apa dan mengapa kita hidup di atas dunia. Dengan segala kerendahan hati, seandainya ada kata yang pernah melukai, sikap yang terasa menyakitkan, atau khilaf yang meninggalkan beban di hati, saya memohon maaf lahir dan batin. Selamat menjalankan ibadah puasa.
Semoga Allah menerima ibadah kita. Melembutkan hati kita. Dan menjadikan Ramadan ini sebagai jalan jiwa untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (*)






