ALHAMDULILLAHI rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat umur dan kehidupan. Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan yang sangat dinantikan oleh orang-orang beriman. Bagi orang yang beriman, datangnya bulan Ramadhan adalah kebahagiaan. Karena itu, mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyambut Ramadhan sejak dua bulan sebelumnya dengan doa yang kita kenal: Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”
Inilah tanda kebahagiaan Nabi dalam menyambut Ramadhan. Bahkan, sebagian ulama salaf disebutkan telah mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelumnya.
Mengapa Ramadhan begitu istimewa bagi orang beriman? Karena di bulan inilah terjadi keintiman yang luar biasa antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, bagi orang yang tidak beriman, Ramadhan justru terasa menakutkan. Sebelum Ramadhan datang, mereka berkata, “Ayo kumpul-kumpul, makan-makan dulu sebelum siang hari tidak bisa makan.” Seakan-akan Ramadhan adalah momok yang harus dihindari, karena selama sebulan penuh kaum Muslimin diwajibkan berpuasa.
Di sinilah Ramadhan menjadi ujian keimanan kita: Apakah kita menyambutnya dengan bahagia, penuh suka cita, atau justru menganggapnya sebagai beban? Keistimewaan Ramadhan bagi orang beriman yang pertama adalah kedekatan dan keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, keintiman yang tidak kita temukan dalam ibadah lainnya.
Allah berfirman dalam hadis qudsi, bahwa setiap amal anak Adam kembali kepada dirinya sendiri. Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat kembali kepada kita dengan membersihkan harta dan menolong sesama. Haji pun memberikan manfaat rohani dan jasmani.
Namun puasa berbeda. Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Berapa balasannya? Tidak ada yang tahu. Allah memberikan balasan minimal sepuluh kali lipat, bisa tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana kemuliaan Lailatul Qadar.
Inilah makna berkah: bertambahnya kebaikan. Puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilakukan secara rahasia. Ketika kita salat, orang lain melihat. Ketika zakat, orang lain tahu. Ketika haji, banyak orang terlibat. Tetapi puasa, tidak ada yang tahu kecuali Allah.
Seseorang yang tidak berpuasa karena haid, nifas, atau sakit siapa yang tahu? Begitu juga orang yang berpuasa siapa yang tahu? Kecuali ia sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah keistimewaan puasa: hubungan langsung antara hamba dan Sang Pencipta.
Lebih istimewa lagi, kita meninggalkan makanan dan minuman yang halal yang tersedia di rumah kita sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, semata-mata karena perintah Allah. Inilah bentuk ketundukan dan kedekatan kepada-Nya.
Selain pahala yang berlipat ganda, Ramadhan juga menghadirkan ampunan dosa. Ampunan adalah nikmat yang sangat berharga, karena setiap hari kita tidak lepas dari dosa apa yang kita lihat, dengar, ucapkan, bahkan dari aktivitas sederhana seperti bermedia sosial.
Ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, Allah juga memberkahi amal-amal kita. Umur kita terbatas rata-rata 60 hingga 70 tahun, namun dengan keberkahan Ramadhan, Allah melipatgandakan kebaikan sehingga kita bisa meraih pahala besar dalam waktu singkat.
Karena itu, mari kita manfaatkan Ramadhan sebaik-baiknya. Di dalamnya ada salat malam berjamaah yang tidak ada di bulan lain, yaitu salat tarawih. Ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Perbanyaklah salat, perbanyaklah doa, dan perbanyaklah membaca Al-Quran. Jika kita ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah. Jika kita ingin Allah berbicara kepada kita, maka bacalah Al-Quran.
Para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i, mengkhatamkan Al-Quran puluhan kali di bulan Ramadhan. Maka kita pun hendaknya memiliki target: berapa kali khatam, berapa banyak sedekah, dan seberapa besar peningkatan ibadah kita.
Ramadhan adalah kesempatan untuk meninggalkan hawa nafsu, mengasah spiritual, dan mendekatkan diri kepada Allah. Belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya, maka jangan sia-siakan kesempatan ini.
Isilah Ramadhan dengan ibadah, kurangi kesibukan duniawi yang tidak perlu, dan perbanyak mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan i’tikaf menjauh dari keramaian untuk berdiam di rumah Allah.
Semoga Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, membersihkan jiwa dan raga, serta meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu al-muwaffiq ila aqwamis sabil. (*)






