SIJUNJUNG, METRO— Masyarakat di Muaro Sijunjung dan sekitarnya mengeluh akibat langkanya gas elpiji 3Kg hampir satu bulan terakhir. Selain susah didapat, harga gas subsidi 3kg di tingkat pengecer mencapai Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per tabung. Kelangkaan gas elpiji 3kg itu menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat, terutama jelang memasuki bulan Ramadhan. Meskipun di tingkat agen mengatakan tidak adanya terjadi pengurangan kuota namun, gas melon di tingkat pangkalan juga sulit untuk didapat.
Seorang ibu rumah tangga, Ika (34) warga Muaro mengatakan, biasanya ia membeli gas 3kg di pengecer seperti warung atau kedai dekat rumah. Namun, sejak beberapa minggu terakhir gas melon makin sulit didapat, bahkan di pangkalan pun juga tidak tersedia. “Biasanya di warung terdekat bisa ditemukan. Tapi kemarin saya sudah berkeliling di sekitaran Muaro Sijunjung, baik di pangkalan maupun pengecer juga tidak ada,” tuturnya.
Setelah berkeliling dan bertanya-tanya, akhirnya ia menemukan di salah satu pengecer. “Masih untung bisa dapat. Itupun hanya tersedia 3 tabung saja di warung tersebut. Katanya juga baru dapat tadi siang,” ujarnya. Sabtu (14/2) kemarin. “Katanya (pangkalan/pengecer) gas habis atau tidak ada. Memang akhir-akhir ini gas melon susah. Kalau di pangkalan biasanya Rp19 ribu, di pengecer ada yang Rp23 hingga Rp25 ribu per tabung,” katanya menambahkan.
Keluhan langkanya gas elpiji 3kg juga disampaikan masyarakat Muaro Sijunjung melalui media sosial, dan mendapat berbagai komentar dari warganet. Hal itupun menimbulkan berbagai asumsi liar di tengah masyarakat, mulai dari dugaan penggunaan yang tidak sesuai, peruntukkan yang tidak tepat hingga pendistribusian yang tidak sesuai daerah.
Salah seorang agen gas elpiji di Kecamatan Koto VII menjelaskan, pihaknya juga tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab langkanya gas melon di tingkat pangkalan dan pengecer, sehingga sulit didapatkan masyarakat. “Penyaluran dari agen ke pangkalan tetap berjalan seperti biasanya setiap hari. Tidak ada pengurangan kuota atau perubahan. Kami menyalurkan ke sejumlah pangkalan di berbagai kecamatan, dengan jumlah yang sama,” jelasnya.
Pihaknya pun mengaku banyak mendapat pertanyaan dari masyarakat terkait langkanya gas melon 3kg. “Memang banyak yang bertanya kepada kami sejak beberapa waktu terakhir. Namun yang jelas tidak ada pengurangan kuota, kami masih menyalurkan seperti biasa,” ungkapnya. Terkait kemungkinan penyebabnya, agen tidak mau beranggapan. “Gas 3kg ini kan barang subsidi, tentunya ada pihak-pihak yang lebih berwenang mengawasi,” sebutnya. Meski demikian, pihaknya mengatakan sejak beberapa tahun terakhir tidak ada pengajuan penambahan kuota dari pemerintah daerah untuk gas 3kg. “Bisa saja ini salah satu penyebabnya. Dari dulu tidak ada pengajuan penambahan kuota, sedangkan masyarakat pengguna terus bertambah. Sehingga persaingan untuk mendapatkan lebih ketat,” pungkasnya. (ndo)






