BERITA UTAMAHIBURAN

Dua Menara, Dua Zaman: 100 Tahun Jam Gadang dan Menara Songket dalam Cermin Sejarah Pembangunan

0
×

Dua Menara, Dua Zaman: 100 Tahun Jam Gadang dan Menara Songket dalam Cermin Sejarah Pembangunan

Sebarkan artikel ini
Kolase Jam Gadang dan Menara Songket (Foto: Indonesiakaya/Nofrins)

BUKITTINGGI, METRO – Jam Gadang genap berusia 100 tahun (1 Abad) pada 2026. Menara jam setinggi sekitar 26 meter yang dibangun pada 1926 ini masih berdiri kokoh di pusat Kota Bukittinggi dan menjadi ikon paling dikenal di Sumatera Barat.

Dibangun menggunakan campuran putih telur tanpa semen konvensional, Jam Gadang tidak dibuka untuk umum agar pengunjung bisa naik hingga puncaknya. Menara ini didirikan atas perintah Ratu Belanda sebagai hadiah kepada Sekretaris Kota Bukittinggi, HR Rookmaker.

Sebagai pembanding, Menara Songket di Kabupaten Solok Selatan dibangun dengan teknologi modern menggunakan Semen Padang dan tiang baja mutakhir.

Menurut Yori Antar, Sang Arsitek Menara Songket, disainnya memungkinkan wisatawan menaiki menara setinggi 32 meter ini hingga puncak tanpa lift. Karena tangga sudah dirancang dengan perhitungan tertentu dan ergonomis sehingga pengunjung tidak merasa kelelahan atau sesak nafas sampaindi puncak.

Menara Songket dibangun atas perintah Presiden RI pada 2018 dengan tujuan meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap kampung etnik di Indonesia. Kawasan Saribu Rumah Gadang di Solok Selatan dijadikan contoh pengembangan kampung etnik sebagai destinasi wisata.

Pegiat pariwisata Sumatera Barat, Nofrins Napilus, mengatakan peringatan 100 tahun Jam Gadang seharusnya tidak sekadar perayaan, tetapi juga refleksi sejarah.

“Apapun proses yang terjadi dulu, Jam Gadang sudah jadi simbol kebanggaan dunia, bukan hanya Sumbar. Jadi perlu kita jaga dan lestarikan terus dengan baik,” ujar Nofrins, Minggu (8/2/2026).

Menurutnya, Jam Gadang perlu dijadikan ruang edukasi sejarah agar generasi muda memahami konteks di balik warisan kolonial tersebut.

Memasuki satu abad keberadaannya, Jam Gadang berdiri di tengah realitas pembangunan yang berbeda dengan masa kini. Nofrins membandingkannya dengan Menara Songket yang lahir dari pendekatan kolaboratif dan penerapan standar keselamatan kerja yang ketat.

“Kalau Jam Gadang dibangun di masa ketika keselamatan kerja mungkin belum menjadi perhatian utama, Menara Songket justru lahir dari semangat sebaliknya. Proyek Menara Songket yang merupakan bagian Program Revitalisasi Saribu Rumah Gadang, dibangun dengan kerja sama dan mencatatkan zero accident. Ini menunjukkan perubahan cara kita memandang dan melaksanakan pembangunan,” kata Nofrins.

Perbandingan tersebut menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari pembangunan eksploitatif menuju pembangunan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada keselamatan tenaga kerja.

Selama 100 tahun, Jam Gadang telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga era modern. Perubahan bentuk jam dan ornamen menara pun mencerminkan dinamika politik dan sejarah bangsa.

Kini, Sumatera Barat patut berbangga memiliki Duo Menara kebanggaan yang ikonik: Jam Gadang setinggi 26 meter di Bukittinggi dan Menara Songket 32 meter di Solok Selatan. Kedua menara ini diharapkan menjadi daya tarik yang akan menambah kunjungan wisata ke Ranah Minangkabau ‘Nan Rancak Bana’. (Jef)