BERITA UTAMA

Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Diminta Mulai Pikirkan Kepemimpinan Baru

4
×

Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Diminta Mulai Pikirkan Kepemimpinan Baru

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI— PBNU.

JAKARTA, METRO–Mustasyar PBNU, Asyhari Abdulah Tamrin menilai Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan kepemimpinan baru jelang Muktamar ke-35. Keberadaan sosok baru ini dianggap menjadi solusi dalam menata ulang kepemimpinan NU.

“NU berada pada momentum krusial untuk me­lakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketega­ngan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, me­nuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang,” kata Asyhari, Selasa (3/2).

Asyhari menilai, beberapa nama pantas menduduki jabatan ketua umum dan rais aam. Se­perti kiai Said Aqil Siroj dan Abdussalam Shohib, Pe­ngasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Dena­nyar Jombang Jawa Timur.

“Diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Asyhari menilai bahwa konflik internal PBNU su­dah terlalu membesar. Oleh karena itu, perlu ada­nya pendekatan baru da­lam penyelesaian persoalan tersebut.

“KH. Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang da­lam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus pe­neduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah,” ucap­nya.

“Sementara itu, KH. Abdussalam Shohib yang akrab dengan panggilan Gus Salam merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultu­ral dengan basis warga nahdliyyin. Gus Salam dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Asyhari menyampaikan, penataan PBNU harus dilakukan secara profesional. Kepe­mimpinan harus berorientasi kepada kebaikan umat.

“Urgensi pasangan ini pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus,” jelasnya.

Rekonsiliasi internal PBNU, dengan menutup ruang polarisasi dan me­ngakhiri konflik yang me­nguras energi organisasi. Kedua, pembenahan organisasi, melalui penguatan sistem, disiplin struktur, dan penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pe­layan jam’iyyah dan jama’ah.

“Ketiga, pemulihan nama baik NU, agar kem­bali tampil sebagai orga­nisasi ulama yang bermartabat, teduh dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan,” tandas Asyhari. (jpg)