PAYAKUMBUH/50 KOTA

Wakil Ketua DPRD Buka Mancing Ikan Larangan

2
×

Wakil Ketua DPRD Buka Mancing Ikan Larangan

Sebarkan artikel ini
MANCING IKAN LARANGAN— Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Hurisna Jamhur, membuka mancing ikan lubuak larangan.

PAYAKUMBUH, METRO –Di sepanjang aliran Batang Sikali, warga Kenagarian Tiaka berkumpul bukan semata untuk me­nyalurkan hobi memancing. Lomba mancing ikan larangan yang digelar ma­syarakat setempat men­jadi ruang perjumpaan, tempat kebersamaan dirawat, se­kaligus sarana berbagi bagi sesama.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh Hurisna Jamhur, Sabtu (31/1). Lomba mancing ini dilaksanakan tiga kali, dengan jadwal satu kali dalam sepekan, dan rutin digelar tiga kali dalam setahun. Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan tujuan yang lebih luas yaitu memperkuat ikatan sosial antarwarga Kenagarian Tiaka.

Dalam sambutannya, Hurisna Jamhur memandang kegiatan ini sebagai pengingat bahwa kehidupan bersama tumbuh dari perjumpaan yang sederhana, namun dijalani de­ngan niat yang tulus.

“Kebersamaan sering kali tidak lahir dari peristiwa besar. Ia tumbuh pe­lan dari ruang-ruang kecil, ketika warga mau berhenti sejenak, saling menyapa, dan menyadari bahwa mereka berbagi tempat hidup yang sama,” tutur Husrina.

Pada kesempatan ter­sebut, Hurisna Jamhur menekankan bahwa makna ikan larangan melampaui sekadar aturan adat. “Ikan larangan mengajarkan kita untuk menahan diri. Ada masa ketika alam dijaga, tidak diambil, agar pada waktunya ia bisa memberi manfaat bagi semua. Di situ ada nilai kesabaran, keadilan, dan rasa tanggung jawab bersama,” ujar Hurisna.

Atas dihelatnya lomba mancing ini, Husrina ung­kapkan jika ketika ma­syarakat masih memiliki ruang untuk berkumpul dan berbagi tujuan, di si­tulah kekuatan sosial perlahan dibangun. “Modal sosial yang paling berharga bukan semata pada apa yang kita miliki, melainkan pada kesediaan untuk saling menjaga dan memikirkan masa depan bersama,” ujar Hurisna Jamhur.

Ia menambahkan, kebersamaan yang dirawat secara konsisten akan membentuk kepercayaan sosial yang menjadi fondasi kehidupan ma­sya­rakat. “Kepercayaan tidak dibangun dalam satu hari. Ia lahir dari kebiasaan sa­ling hadir, dari kesediaan untuk berbagi peran dan tanggung jawab, sekecil apa pun itu,” kata Husrina Jamhur.

Menurutnya, kegiatan yang berpijak pada alam dan kehidupan sehari-hari warga juga mengajarkan cara memandang pembangunan secara lebih utuh. “Pembangunan sejatinya bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi tentang bagaimana manusia merasa terhubung dengan sesama, dengan lingkungannya, dan de­ngan nilai-nilai yang mereka yakini,” ujar Husrina.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tiaka Sepriyendi mengatakan, setiap peserta lomba dikenakan biaya pendaftaran. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk mendukung renovasi Masjid Muhsinin yang berada di depan Kantor Lurah Tiaka, sekaligus untuk santunan bagi anak yatim piatu di Kenagarian Tiaka.

Selain berdimensi sosial dan keagamaan, lomba mancing ini juga menjadi bagian dari upaya warga menjaga dan menghidupkan kembali potensi alam Batang Sikali. Di sepanjang aliran sungai tersebut sebelumnya telah ditanam tanaman produktif yang kelak hasilnya dapat dimanfaatkan oleh ma­syarakat.

Upaya merawat alam dilakukan dengan cara yang sederhana namun berkelanjutan. Setiap kali lomba usai, bibit ikan kem­bali ditebarkan ke Batang Sikali. Sungai tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang dirawat bersama.

“Dari Batang Sikali, warga Tiaka merajut kebersamaan dengan cara mereka sendiri, pelan, bersahaja, dan berakar pada kesadaran bahwa kehidupan bersama ha­nya dapat tumbuh jika dirawat secara kolektif,” ung­kap. (uus)