SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

BI Sumbar Dorong PenguatanSektor Pariwisata sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi, Abdul Majid: Relatif Lebih Cepat Dikembangkan

2
×

BI Sumbar Dorong PenguatanSektor Pariwisata sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi, Abdul Majid: Relatif Lebih Cepat Dikembangkan

Sebarkan artikel ini
PELUNCURAN—Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar,Mohamad Abdul Majid Ikram saat peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 di Padang, Rabu (28/1).

PADANG, METRO–Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) selalu di bawah nasonal setelah bencana gempa 2009 dan Covid-19. Permasalahan utamanya ternyata disebabkan sektor-sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian di Sumbar selalu terdampak bencana.

Hal itu diungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatra Barat (Sumbar), Mohamad Abdul Majid Ikram saat peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 dengan tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” di Padang, Rabu (28/1).

“Penyusunan LPI dilakukan BI bersama lembaga penelitian di Sumbar untuk mengkaji kondisi struktural perekonomian daerah, khususnya pascabencana gempa 2009 dan pandemi Covid-19. Kajian ini dilakukan karena pertumbuhan ekonomi Sumbar selalu berada di bawah nasional,” kata Abdul Majid.

Abdul Majid menjelaskan, berdasarkan hasil kajian yang sudah dilakukan, penyebab melemahnya pertumbuhan ekonomi di Sumbar  disebabkan sektor pertanian, industri, dan transportasi menjadi sektor yang paling merasakan dampak bencana alam.

“Perlu dilakukan pembenahan yang cepat dan terukur agar Sumbar mampu kembali mengejar pertumbuhan ekonomi nasional. Pertanian harus diperbaiki, sawahannya, irigasi,  karena basis pertanian inklusi dan menye­rap tenaga kerja. Yang pa­ling penting juga peningkatan produktivitas pertanian,” ungkap Abdul Majid.

Menutur Abdul Majid,  dampak bencana galodo pada 2024 belum sepenuhnya diikuti dengan percepatan perbaikan infrastruktur. Hal tersebut tersebut terbukti melambatnya ki­nerja sektor pertanian, meskipun subsektor perkebunan masih tumbuh didorong oleh kenaikan harga komoditas.

“Memasuki 2025, bencana kembali terjadi de­ngan pola berbeda, namun sektor pertanian kembali menjadi yang paling terdampak. Keterlambatan perbaikan infrastruktur pendukung, khususnya irigasi, berpotensi menghambat pemulihan pada musim tanam kedua 2026. Kalau proses perbaikan terlambat, ini akan menjadi persoalan serius. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertanian bisa pulih tepat waktu,” tegas dia.

Selain pertanian, ungkap Abdul Majid, Bank Indonesia mendorong penguatan sumber pertumbuhan ekonomi lain, salah satunya sektor pariwisata, yang dinilai relatif lebih cepat dikembangkan. Untuk itu diharapkan ke depan bisa merancang satu strategi bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif, juga tidak terlalu terdam­pak kalau terjadi bencana.

“Kita optimis untuk me­ngejar pertumbuhan, tapi juga realistis melihat ka­pasitas. Kalau tidak hati-hati, kita bisa kembali ter­tinggal di bawah nasional. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi, harus ada sumber pertumbuhan ekonomi yang ba­ru,” tutur dia

Bank Indonesia, lanjutnya, melakukan upaya pengkajian dengan melibatkan perguruan tinggi yaitu dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang. Kajian difokuskan kepada dua hal yang diindikasikan memiliki dampak yang cu­kup signifikan terhadap keberlangsungan pertumbuhan ekonomi di Sumbar.

“Tentu hasil penelitian ini bisa memberikan usulan rekomendasi untuk bi­sa bagaimana kita mencari strategi percepatan pertumbuhan yang inklusif terutama dari sektor-sektor yang kuat menyerap tenaga kerja termasuk dari UMKM ke depan, “ ulas­nya.

Dia menerangkan, pe­nelitian pertama adalah terkait terkait dengan kajian dampak ekonomi terhadap pertumbuhan eko­nomi jangka panjang. Hasil penelitian itu diharapkan mendapatkan gambaran sejauh mana bencana a­lam memberikan dampak terhadap perekonomian dan langkah-langkah pe­nanganannya menjadi rekomendasi di akhir pnelitian.

“Dari penelitian ini a­kan dilihat sektor-sektor mana yang paling terdampak dan kira-kira kebijakan apa yang paling efektif untuk mengembalikan dan bahkan meningkatkan potensi pertumbuhan eko­nomi jangka panjang,” ujar dia.

Abdul Majid menambahkan, dari penelitian tersebut diharapkan bisa mengukur dan memetakan bekas “luka” atau scaring efect dari guncangan terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang termasuk sektor-sektor yang pa­ling rentan terdampak dari luka itu sendiri.

“Kemudian juga dari penelitian itu nanti tim peneliti akan mengusulkan dasar kebijakan untuk memutus risiko long round equi­librium dan memperkuat strategi mencapai pertumbuhan ekonomi melalui intervensinya lebih transformasional. Tentunya nanti bisa memberikan skenario kebijakan berbasis pada simulasi untuk menilai e­fektivitas berbagai opsi intervensi,” ujarnya.

Kajian kedua adalah adalah penelitian terkait percepatan pertumbuhan ekonomi Sumbar melalui penguatan sektor inklusif. Jadi kajian itu akan memperkuat upaya untuk mempercepat pertumbuhan me­lalui penguatan sektor dan inklusif dengan mengidentifikasi sektor yang paling kuat menciptakan tenaga kerja dan mengukur ba­gaimana pariwisata bisa mengangkat pendapatan UMKM.

“Sehingga pertumbuhan tidak hanya tinggi tetapi juga merata. Diharapkan ada input terkait bagaimana mendorong ekonomi bisa berbasis pada sektor-sektor dan inklusif terutama menyerap tenaga kerja di sektor UMKM,” pung­kasnya. (rgr)