JAKARTA, METRO–Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan komitmen bersama untuk mendorong penguatan kemitraan strategis khususnya di bidang maritim dan pendidikan, dalam pertemuan di 10 Downing Street, London, Selasa (20/1) siang waktu setempat.
Starmer awalnya menyampaikan bahwa hubungan kedua negara telah berkembang pesat sejak kunjungan pertama Presiden Prabowo dan kini telah mencapai tahap kemitraan strategis.
Adapun salah satu kemitraan yang dianggap mengalami progres cukup pesat adalah di bidang maritim, utamanya setelah kedua negara menyepakati Maritime Partnership Programme (MPP) pada November lalu untuk meningkatkan kapasitas angkatan laut dan kapal nelayan Indonesia.
“Itu adalah hal yang kita bicarakan pada pertemuan sebelumnya, jadi saya sangat bahagia Anda bisa kembali ke sini,” ujar Starmer, Selasa (20/1).
Di samping sektor maritim, Starmer juga menyampaikan bahwa pendidikan akan menjadi agenda kerja sama antarkedua negara berikutnya.
“Anda memiliki banyak hal untuk didiskusikan, termasuk pendidikan, yang sangat Anda perhatikan pada kunjungan terakhir, dan sekali lagi saya sangat senang bahwa kita terus membuat kemajuan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Prabowo juga menjelaskan bahwa kunjungannya kali ini memang berfokus pada kerja sama di bidang maritim dan pendidikan. Hal itu terlihat dari sejumlah pertemuan yang dilakukannya sejak memulai kunjungan kerja di Inggris pada awal pekan ini.
Prabowo mengatakan, ia telah bertemu dengan perusahaan pertahanan Inggris Babcock terkait kemitraan di sektor maritim. Kemudian, ia juga telah melakukan diskusi bersama Russell Group, yakni asosiasi yang menaungi 24 universitas riset terkemuka di Inggris.
Tak hanya itu, Prabowo menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Inggris akan memberikan keuntungan nyata bagi kedua negara.
Menurut Prabowo, Inggris merupakan mitra penting bagi Indonesia, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Ia menilai Inggris memiliki keunggulan teknologi dan kekuatan finansial yang dapat saling melengkapi dengan potensi besar Indonesia.
“Kita memandang UK sebagai suatu partner yang nanti bisa juga berpartisipasi di dalam ekonomi kita. Mereka punya teknologi, mereka punya keuangan sangat kuat, mereka berminat untuk investasi di Indonesia, dan kita merasa bisa mendapat manfaat dari teknologi mereka, dari kemampuan keuangan mereka. Jadi saya kira partnership ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak,” ujar Prabowo di Lonong, Inggris, ditulis Rabu (21/1).
Kemitraan pertumbuhan ekonomi Indonesia–Inggris ini mencakup kerja sama lintas sektor yang luas. Mulai dari pengembangan energi terbarukan, kesehatan dan sains, bisnis dan jasa keuangan, ekonomi digital, hingga infrastruktur, transportasi, pendidikan, serta pertanian dan pangan.
Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan.
Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah dukungan Inggris terhadap pengembangan energi hijau di Indonesia. Inggris, yang memiliki keunggulan dalam teknologi energi pasang surut, menyatakan dukungan untuk pengembangan kapasitas energi pasang surut di Indonesia hingga 40 megawatt (MW).
Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dan sejalan dengan rencana Indonesia menambah kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan sebesar 42,6 gigawatt (GW) sebagaimana tercantum dalam RUPTL PT PLN 2025–2034.
Selain itu, kedua negara juga menjajaki kerja sama pengembangan jaringan transmisi listrik terintegrasi berskala besar atau Green Enabling Super Grid untuk wilayah Jawa-Bali dan Jawa-Sumatera yang berbasis energi terbarukan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Dalam dokumen EGP yang dipublikasikan pada Selasa (20/1), Indonesia dan Inggris menyambut baik peningkatan peran lembaga keuangan dan sektor swasta dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Kerja sama juga diperluas ke sektor keuangan syariah, ekonomi digital lintas negara, serta penguatan perdagangan produk pertanian.
Tak kalah penting, kemitraan ini turut mendorong penguatan ekosistem e-commerce dan dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih terintegrasi dalam perdagangan global.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris yang telah terjalin sejak 1949 pun kini memasuki babak baru yang lebih strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. (jpg)






