BERITA UTAMA

Hilang saat Menjaring Ikan, Dedy Fernando Ditemukan Meninggal

0
×

Hilang saat Menjaring Ikan, Dedy Fernando Ditemukan Meninggal

Sebarkan artikel ini
EVAKUASI— Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah nelayan yang ditemukan di Muaro Sunua, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padangpariaman.

PDG.PARIAMAN, METROSetelah hari kedua, operasi pencarian terhadap seorang nelayan yang dilapor­kan hilang saat menjaring ikan di Muaro Sunua, Kecamatan Nan Sabaris, Kabu­paten Padangpariaman, akhirnya mem­buah­kan hasil.

Pada Rabu (21/1) sekitar pukul 15.52 WIB, Tim SAR gabungan berhasil menemukan nelayan ber­nama Dedy Fernando (44) tak jauh dari titik korban dilaporkan hilang. Sayang­nya, saat ditemukan, kor­ban Dedy dalam kondisi su­dah meninggal dunia.

Tim SAR gabungan kemudian mengevakuasi je­na­zah korban ke Rumah Sa­kit Umum Daerah (RSUD) Kota Pariaman untuk proses lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.

Kepala Kantor SAR Ke­las A Padang, Abdul Malik mengatakan, operasi pen­cairan terhadap korban setelah adanya laporan awal diterima pihaknya pada Selasa, 20 Januari 2026, pukul 15.07 WIB. Informasi tersebut disampaikan oleh Harry, anggota Pramuka SAKA SAR.

“Korban berangkat dari rumah sekitar pukul 03.00 WIB untuk menjaring ikan di kawasan Muaro Sunua. Sekitar pukul 07.00 WIB, korban masih sempat terlihat oleh warga setempat. Namun setelah itu, keberadaannya tidak lagi diketahui. Yang ditemukan di lokasi hanya celana milik korban dan sepeda motor yang tertinggal di darat,” kata Abdul Malik.

Abdul Malik menambahkan, warga sekitar sem­pat melakukan upaya pen­carian secara mandiri se­belum akhirnya mela­porkan kejadian tersebut ke­pada Kantor SAR Pa­dang. Karena pencarian warga belum membuahkan hasil, operasi SAR resmi dibuka pada hari yang sama.

“Pencarian dilanjutkan keesokan harinya, Rabu (21/1) pagi pukul 07.00 WIB. Operasi dibagi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU) dengan luas area pencarian sekitar 2,5 kilometer persegi ke arah hilir sungai. SRU 1 melakukan penyisiran di sekitar titik lokasi kejadian perkara (LKP) menggunakan LCR dan Aqua Eye dengan luas area pencarian sekitar 0,5 kilometer persegi. SRU 2 dan SRU 3 menyisir area lebih luas menggunakan LCR, masing-masing dengan cakupan sekitar 1 kilometer persegi, berdasarkan koordinat-koordinat yang telah ditentukan,” jelasnya.

Menurut Abdul Malik, upaya pencarian dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan karakteristik arus sungai dan kondisi muara. Salah satu tantangan yang dihadapi Tim SAR adalah mening­katnya debit air sungai, meskipun kondisi cuaca secara umum dilaporkan berawan.

“Hingga akhirnya, pada pukul 15.52 WIB, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada koor­dinat 0°40’31.72″S – 100°9’31.75″E, atau sekitar 100 meter dari titik LKP. Korban ditemukan melalui metode penyisiran sejajar (parallel sweep search). Setelah ditemukan, korban segera dievakuasi dan dibawa ke RSUD Kota Pariaman untuk penanganan lebih lanjut,” ujar dia.

Abdul Malik menambahkan, operasi SAR ini dilaksanakan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, Polairud, BPBD Kota dan Kabupaten Pariaman, TNI/Polri (Babinsa & Bhabinkamtibmas), hingga relawan dari Rapi dan Gorila.

“Dengan ditemukannya korban, operasi SAR secara resmi diusulkan untuk ditutup. Abdul Malik menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh unsur yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Seluruh unsur yang terlibat telah dikembalikan ke kesatuan masing-masing. Kami ucapkan terima kasih atas kerja keras dan sinergi di lapangan,” tutupnya. (*)