METRO SUMBAR

CFD Gerakan Ekonomi Masyarakat Tanahdatar

1
×

CFD Gerakan Ekonomi Masyarakat Tanahdatar

Sebarkan artikel ini

TANAHDATAR, METRO–Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Minggu pagi di kawasan Lapangan Cindua Mato Batusangkar, tidak hanya menjadi sa­rana berolahraga dan re­krea­si bagi masyarakat, namun juga memberikan dampak positif terhadap pergerakan ekonomi pe­laku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Setiap pelaksanaan CFD, ratusan pedagang kaki lima dari berbagai nagari turut meramaikan kawasan ter­sebut dengan aneka jajanan kuliner yang menggugah selera dan ramah di kantong ma­sya­rakat.

Kasi Lalu Lintas dan Angkutan Dinas Per­hu­bungan Tanah Datar, Jack Maradona, menyam­pai­­kan pada kegiatan tersebut tercatat sebanyak 196 pe­laku UMKM berjualan. “Se­jak CFD menjadi agenda rutin, ekonomi masyarakat cukup hidup. Pedagang yang berjualan tidak hanya dari kawasan sekitar, ­tetapi juga dari nagari lain,” ujar­nya.

Ia juga mengimbau ke­pada masyarakat dan pe­dagang untuk menaati atu­ran yang telah disepakati. Pedagang di­minta sudah memasuki area berjualan pada pukul 05.30 WIB, ka­rena pada pukul 06.00 WIB akses jalan di sekitar ka­wasan CFD akan ditutup hingga pukul 10.00 WIB.

Untuk mendukung ke­lan­­caran kegiatan, Dinas Perhubungan telah me­nyiapkan beberapa titik parkir bagi masyarakat, di antaranya di Gedung Na­sio­nal, sekitar Lapangan Gumarang, depan Kantor PMI, serta di samping Kantor Dinas Dukcapil.

Sementara itu, untuk pengaturan arus lalu lintas kata dia, dilakukan dengan pengalihan kendaraan, yakni dari arah Sungayang dialihkan ke Parak Juar, dari arah Pagaruyung diar­ahkan ke Kampung Telang, serta dari arah Makam Pahlawan dialihkan ke SMP Negeri 2 dan Kampung Teleng.

Sementara itu, Yolan, pen­jual brownies asal Sim­puruik, mengaku ber­syu­kur dengan adanya CFD Batusangkar tersebut. Dia mengatakan dari se­kitar 400 picis brownies yang dibawa, seluruhnya habis terjual dengan harga berv­a­ria­si  mulai dari Rp2500 hingga Rp7.000 per picis­nya. “Setiap CFD ini pen­jualan tidak bisa dipastikan, kadang bisa sampai 500 pi­cis kadang 400-an,” ujar­nya.

Hal senada juga di­sam­paikan Nia, pedagang ma­ka­nan viral asal Lima Kaum. Ia mengaku pen­jua­lan saat CFD cukup men­janjikan.

Sementara Ranti, pen­jual makanan stik asal Do­bok, juga merasakan man­faat besar dari CFD. De­ngan harga jual Rp10.000 per bungkus ia mampu menghabiskan 70 hingga 100 bungkus selama ke­giatan berlangsung. Dalam kesehariannya, Ranti juga memasok produk ke se­jumlah minimarket di Bat­u­sang­kar, bahkan hingga ke Payakumbuh, Padang Panjang, dan Solok.

Dikesempatan lain, sa­lah seorang pengunjung CFD, Dipo atau yang akrab disapa Uno, menilai CFD sangat berdampak positif ter­hadap peningkatan eko­nomi masyarakat.  “Banyak UMKM yang berjualan, mu­lai dari makanan tra­disional hing­ga kuliner viral, bahkan ada makanan yang jarang dite­mui di pa­sar,” katanya.

Menurut nya, ke­de­pan­nya pelaksanaan CFD agar dapat lebih terstruktur, terutama terkait sterilisasi kawasan dari kendaraan, kebersihan lingkungan, serta tata kelola pedagang agar lebih tertib dan nya­man. (ant)