METRO PADANG

RSUP Djamil Kerahkan Tim Multidisiplin untuk Perawatan Intensif Klaudia Despita

0
×

RSUP Djamil Kerahkan Tim Multidisiplin untuk Perawatan Intensif Klaudia Despita

Sebarkan artikel ini
PERAWATAN INTENSIF— RSUP Dr. M. Djamil saat ini tengah memberikan perhatian intensif terhadap Klaudia Despita (19), remaja putri asal Pesisir Selatan. Klaudia menjadi perhatian serius karena komplikasi kompleks yang bermula dari penyakit tumor ganas yang menyerang tulang belakangnya.

PADANG, METRORSUP Dr. M. Djamil saat ini tengah memberikan perhatian intensif terhadap Klaudia Despita (19), remaja putri asal Pesisir Selatan. Hingga hari Kamis (15/1), pasien telah memasuki hari ke-19 masa perawatan sejak pertama kali dirujuk pada 29 Desember lalu di HCU Penyakit Dalam. Kondisi Klaudia menjadi perhatian serius karena komplikasi kompleks yang bermula dari penyakit tumor ganas yang menyerang tulang belakangnya.

“Saat pertama kali tiba di rumah sakit, kondisi pasien cukup memprihatinkan dengan luka terbuka di area bokong kiri dan kanan yang sudah dialami selama satu bulan. Luka tersebut muncul akibat kondisi tirah baring atau berbaring berkepanjangan selama kurang lebih tiga bulan. Ketidakmampuan pasien untuk bergerak ini dipicu oleh keberadaan tumor pada punggung yang mengakibatkan kedua tungkai bawah mengalami kelumpuhan atau tidak dapat digerakkan sama sekali,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Kamis (15/1).

Menyikapi kondisi tersebut, sebutnya, manajemen rumah sakit segera membentuk tim multidisiplin yang terdiri dari ber­bagai pakar subspesialis. Penanganan Klaudia melibatkan kolaborasi ahli onkologi, ortopedi, bedah plastik, rehabilitasi medik, gizi klinik, radio-onkologi, anestesi, hingga spesialis yang memiliki kompetensi di bidang perawatan paliatif.

“Langkah ini diambil untuk memastikan setiap aspek kesehatan pasien, baik secara fisik maupun psikologis, tertangani secara optimal sesuai standar keselamatan pasien,” tuturnya.

Ia mengungkapkan berdasar hasil pemeriksaan menyeluruh, tim medis mendiagnosis pasien mengalami multiple ulkus dekubitus atau luka tekan yang sangat dalam hingga membentuk lubang di area tulang duduk (sakrum), paha kiri dan kanan, serta tumit kiri. Kondisi luka yang parah ini merupakan dampak langsung dari penya­kit dasar pasien, yaitu epithelioid angiosarkoma.

Baca Juga  Keselamatan Penumpang Diabaikan Terminal Type A Anak Aia

“Penyakit ini merupakan tumor ganas pembuluh darah yang me­nye­rang medula spinalis atau sumsum tulang belakang dengan prognosis yang dinilai kurang baik. Akibat serangan tumor ini, terjadi defisit neurologis berat yang menyebabkan mobilisasi pasien tidak dapat dilakukan secara adekuat, sehingga risiko kemunculan luka baru tetap tinggi meskipun perawatan dilakukan secara maksimal,” ulasnya.

Selama hampir tiga minggu perawatan, tim medis telah melakukan serangkaian tindakan operatif dan non-operatif. Dokter subspesialis bedah plastik, dr. Fory Fortuna, Sp.BP-RE, telah memimpin tiga kali tindakan operasi. “Dan, o­perasi ketiga pada 14 Januari berupa debridement ekstensif pada kedua paha yang dilakukan berkolaborasi dengan Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT (K) Spine dari tim bedah ortopedi,” ungkap Dirut.

Paralel dengan penanganan luka, sebutnya, fokus utama juga diarahkan pada penanganan tumor tulang belakang melalui prosedur radioterapi yang dipimpin oleh dr. Rika Ruhama, Sp.Onk.Rad. Terapi penyinaran ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sekaligus mengecilkan massa tumor.

“Hingga saat ini, Klaudia telah menyelesaikan sesi penyinaran ke-8 dari total 18 kali yang direncanakan. Jika massa tumor berhasil mengecil sesuai target, tim medis akan melakukan evaluasi lanjutan untuk memper­tim­bang­­kan tindakan pe­ngang­katan tumor di area medula spinalis,” papar Dovy.

Selain aspek bedah dan radioterapi, aspek pemulihan fungsi dan nutrisi menjadi pilar penting dalam perawatan ini. “Di bawah bimbingan dr. Rini Agustin, Sp.KFR NM (K) dari bidang rehabilitasi medik, pasien terus didampingi untuk meningkatkan kemampuan fungsionalnya meski saat ini masih terkendala oleh nyeri tulang yang membatasi pergerakan,” ucapnya.

Baca Juga  2 Pasangan Ilegal Digerebek lagi Indehoy di Rumah Kos

Kebutuhan gizi pasien, sebut Dirut, juga dipantau secara ketat oleh dr. Dewi Susanti Febri, M.Biomed, Sp.GK (K), guna mengatasi kondisi anemia, hipoalbuminemia, dan malnutrisi yang diderita pasien. “Tak kalah penting, dukungan psikologis dan pendampingan paliatif diberikan oleh Dr. dr. Arina Widya Murni, Sp.PD-K.Psi, M.Kes, FINASIM untuk membantu menjaga kualitas hidup serta mental pasien di tengah perjua­ngannya melawan penyakit berat,” ucap Dovy.

Dovy Djanas menekankan seluruh tim telah bekerja sesuai dengan indikasi klinis dan standar pelayanan medis tertinggi. Me­ngingat jenis penyakit keganasan dan kondisi imobilisasi berat yang dialami Klaudia, proses penyembuhan luka memiliki keterbatasan alami. Hasil akhirnya bergantung pada respons jaringan tubuh pasien dan perjalanan pe­nyakit dasarnya.

“Tim medis mempre­diksi bahwa kondisi luka kemungkinan besar masih akan memerlukan perawatan harian yang berkelanjutan, dan secara medis dinilai sangat kecil kemungkinan bagi pasien untuk dapat berjalan kembali seperti sedia kala,” sebutnya.

Sebagai langkah lanjutan, Dirut menegaskan pihak rumah sakit berencana untuk segera menggelar family meeting. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penjelasan secara menyeluruh kepada pihak keluarga tentang kondisi terkini, rencana jangka panjang, serta target pengobatan.

“RSUP Dr. M. Djamil berharap melalui komunikasi yang transparan ini, pasien dan keluarga dapat mempersiapkan diri secara fisik dan mental, serta memiliki pemahaman yang utuh terhadap segala upaya medis yang te­ngah dan akan dilakukan ke depan,” tukas Dirut. (rom)