BERITA UTAMA

238.783 Rumah Hancur Akibat Bencana Sumatera, Komisi VIII DPR Minta Pemerintah Kebut Rehabilitasi

0
×

238.783 Rumah Hancur Akibat Bencana Sumatera, Komisi VIII DPR Minta Pemerintah Kebut Rehabilitasi

Sebarkan artikel ini
PORAK PORANDA— Ratusan rumah yang rusak dan porak poranda akibat di terjang banjir bandang susulan beberapa hari lalu yang terjadi di Nagari Batu Busuk, Padang, Jum’at (19/12).

JAKARTA, METRO–Pemerintah diminta mempercepat upaya langkah rehabilitasi terhadap korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Begitu juga de­ngan dampak dari bencana pada November 2025 itu, rekonstruksinya pun harus dikebut agar ma­syarakat terdampak bisa menata hidup lebih baik lagi.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri men­desak pemerintah melakukan langkah taktis dan te­rintegrasi untuk melakukan rehabilitasi maupun rekonstruksi korban bencana di Sumatera. Penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi bencana harus terintegrasi sejauh mungkin terhindar dari ego sektoral kementerian, lembaga dan pemerintah daerah.

“Kehidupan mereka (korban terdampak) harus diperhatikan secepatnya karena hari demi hari situasinya akan memprihatinkan, jika tidak segera memiliki hunian tetap. Negara tidak boleh lambat, apa­lagi lalai memberikan perlindungan terhadap mereka,” ujar Abidin di Jakarta, Kamis (15/1).

Isu penanganan bencana menjadi salah satu materi bahasan pada Konsolidasi dan Pembekalan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI di Megamendung, Kabupaten Bogor yang berlangsung Jumat-Sabtu (16-17/1). Delapan anggota Kelompok Komisi (Poksi) VIII juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Pemerintah diminta mempercepat upaya langkah rehabilitasi terhadap korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Begitu juga de­ngan dampak dari bencana pada November 2025 itu, rekonstruksinya pun harus dikebut agar ma­syarakat terdampak bisa menata hidup lebih baik lagi.

Baca Juga  Pencuri Motor Diciduk usai Kabur ke Luar Negeri, Hasil Penjualan Dihabiskan di Malaysia

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri men­desak pemerintah melakukan langkah taktis dan terintegrasi untuk melakukan rehabilitasi maupun rekonstruksi korban bencana di Sumatera. Penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi bencana harus terintegrasi sejauh mungkin terhindar dari ego sektoral kementerian, lembaga dan pemerintah daerah.

“Kehidupan mereka (korban terdampak) harus diperhatikan secepatnya karena hari demi hari situasinya akan memprihatinkan, jika tidak segera memiliki hunian tetap. Negara tidak boleh lambat, apalagi lalai memberikan perlindungan terhadap me­reka,” ujar Abidin di Jakarta, Kamis (15/1).

Isu penanganan bencana menjadi salah satu materi bahasan pada Konsolidasi dan Pembekalan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI di Megamendung, Kabupaten Bogor yang berlangsung Jumat-Sabtu (16-17/1). Delapan anggota Kelompok Komisi (Poksi) VIII juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Anggota Fraksi PDIP itu berharap data kerusakan yang dimiliki pemerintah tidak hanya berhenti di meja rapat, tetapi ditindaklanjuti dengan kebijakan strategis. Pemerintah juga perlu memastikan kecukupan anggaran untuk merealisasikan tahapan rehabi­litasi dan rekonstruksi ini agar proses pemulihan tidak terkatung-katung.

Selain itu, anggota DPR dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Timur IX yang meliputi Kabupaten Bojonegoro dan Tuban itu terus menyisir pendataan para korban bencana. Sebab melihat luasnya wilayah bencana, dimungkinkan ada hambatan-hambatan saat proses pendataan di lapangan.

Baca Juga  Dinas Pendidikan akan Cek ke Sekolah

Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu me­nye­babkan 208.693 unit rumah di Aceh rusak. Disusul Sumatera Utara sebanyak 24.294 unit dan Sumatera Barat sebanyak 5.796 unit.

“Pendataan tidak cukup sekali. Manfaatkan tek­nologi dalam upaya pe­metaan sekaligus proses rehabilitasi sehingga warga bisa kembali menjalani kehidupan lebih aman se­kaligus dana yang digelontorkan juga tepat sasaran,” pinta Abidin.

Kecepatan dalam pe­mulihan korban bencana, menurut Abidin, juga mem­bangun kembali mental para penyintas agar tidak terus terpuruk. Psikologi para korban juga terbentuk baik sehingga memiliki keyakinan dan kepercayaan diri untuk bisa hidup kembali normal. Di sisi lain, efek dengan pulihnya kehidupan korban, maka roda perekonomian juga kian bergeliat. Hal ini berdampak positif terhadap terbangunnya tatanan sosial dan mencegah terjadinya potensi negatif seperti kemiskinan, kriminalitas dan lainnya.

“Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sumatera memang tidak enteng. Butuh kebijakan kuat dan anggaran besar. Untuk itu, pemerintah tidak boleh bekerja sendirian, tapi merangkul swasta, pengusaha, akademisi, tokoh dan masyarakat sen­diri,” harap Abidin. (jpg)