SOLOK, METRO–Terkait dampak bencana, Pemerintah Kabupaten Solok telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi. Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Kabupaten Solok, bahkan dinilai sebagai salah satu yang terbaik.
Wakil Bupati Solok, Candra mengatakan sebanyak 550 hektare lahan sawah ditetapkan sebagai sasaran pemulihan dan akan segera direhabilitasi.
Dalam rapat persiapan groundbreaking rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana hidrometeorologi, dia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari SK Bersama Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 1355 dan 383 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Tanggap Bencana dan Penyediaan Pangan untuk wilayah terdampak.
Pelaksanaan kegiatan ini lebih menitikberatkan pada aksi nyata di lapangan dari pada aspek seremonial. “Penanganan rehabilitasi lahan sawah akan dilakukan secara serentak di 14 kabupaten/kota di Sumatera Barat, dengan fokus pada lokasi-lokasi yang telah diusulkan oleh pemerintah daerah,” lanjutnya.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan sektor pertanian sekaligus menjaga stabilitas ketahanan pangan pascabencana.
Candra juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan sektor pertanian pascabencana hidrometeorologi.
Dia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Solok telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 3 kali masa tanggap darurat. Melalui koordinasi yang intensif hingga ke tingkat kecamatan dan nagari, masyarakat di wilayah rawan bencana, khususnya di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), dapat dievakuasi dengan baik sehingga bencana banjir tidak menimbulkan korban jiwa maupun orang hilang.
Melalui rapat persiapan ini, seluruh pihak menyatakan komitmen untuk memastikan pelaksanaan rehabilitasi lahan sawah berjalan efektif, terkoordinir, dan memberikan manfaat langsung bagi petani serta masyarakat Sumatera Barat. (vko)





