JAKARTA, METRO–Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Direktorat Promosi dan Edukasi Gizi, Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama, menggelar kegiatan Penguatan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) guna mendukung optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Panitia kegiatan, Teguh Suparyadi, mengatakan penguatan kompetensi ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan KPPG dan KTU KPPG sebagai narasumber dalam mendukung kegiatan sosialisasi MBG di berbagai daerah bersama mitra Komisi IX DPR RI.
“Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 65 orang, terdiri atas 20 KPPG, 20 Kepala Subbagian Tata Usaha KPPG, dan 25 peserta lainnya. Komposisi ini diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan kegiatan sosialisasi bersama mitra kom IX DPR utk keberhasilan MBG secara nasional,” ujar Teguh.
Ia menambahkan, pada tahun ini target sosialisasi MBG mencapai 1066 kegiatan. Para peserta diharapkan mampu menjalankan tugas pendampingan bersama mitra Komisi IX DPR RI dalam menjangkau konstituen di daerah masing-masing.
Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, yang juga Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Dr. Gunalan, A.P., M.Si., menyampaikan bahwa beberapa alasan kegiatan ini dilaksanakan di Bandung, karena Bandung dikenal sebagai kota perjuangan yg saat itu makan berdama sudah menjadi tradisi, bandung juga sebagai kota tempat berdiskusi yg baik dan kota bandung sebagai kota paling kreatif di indonesia, sehingga pengelola Program MBG akan terinspirasi dari ke 3 hal yg menjadi tradisi di Kota Bandung.
“Bandung dikenal sebagai kota dengan kekayaan kuliner dan kreativitas yang tinggi. Tidak heran jika gagasan MBG juga terispirasi dari berbagai kearifan lokal yang tumbuh di indonesia termasuk di kota bandung” katanya.
Menurut Gunalan, Program MBG kini telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Pada tahun pertama, BGN mencatat sebanyak 723 kegiatan sosialisasi telah dilaksanakan bersama mitra komisi IX DPR. Namun, untuk memastikan keberhasilan program, diperlukan peningkatan intensitas sosialisasi pada tahun ini.
Peserta kegiatan penguatan kompetensi ini akan dipersiapkan sebagai narasumber MBG di lapangan. Karena itu, mereka dituntut memahami secara menyeluruh substansi kebijakan, strategi komunikasi publik (junknis), standar operasional prosedur (SOP), hingga aturan terbaru yang telah disusun oleh kedeputian sistem sistakol.
“Para peserta ini merupakan kepanjangan tangan BGN di daerah. Evaluasi pelaksanaan tahun lalu menjadi bekal penting agar sosialisasi dapat disampaikan secara nyata dan mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.
Selain aspek gizi dan pendidikan, MBG juga memiliki keterkaitan erat dengan sektor produksi dan rantai pengadaan pangan. Oleh karena itu, kreativitas daerah perlu terus dikembangkan, termasuk dalam penyusunan menu sehat tanpa penggunaan MSG seperti yang telah dilakukan KPPG di Bandung pada awal Januari lalu.
BGN juga mendorong pengadaan bahan pangan MBG melibatkan koperasi Merah Putih, BUMDes, serta UMKM lokal agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
“Hakikat MBG adalah dari rakyat, dikelola oleh pemerintah melalui pembelian bahan baku MBG melalui koperasi, BUMDes, petani, dan pelaku usaha lokal serta diberikan ke rakyat lg khususnya penerima manfaat MBG yaitu anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui dan balita,” pungkas Gunalan.
Hasil dari kegiatan penguatan kompetensi ini diharapkan dapat segera diimplementasikan oleh para peserta saat melakukan sosialisasi MBG di wilayah masing-masing, sehingga pemahaman masyarakat terhadap program nasional ini semakin meningkat. (jpg)





