LIMAPULUH KOTA, METRO –Harga cabai merah ditingkat petani mulai beringsut turun satu bulan menjelang bulan suci ramadhan 2026. Penurunan harga cabe dirasakan petani terjadi sejak sepekan terakhir, meski tidak terlalu jauh turunnya.
Salah seorang petani cabai merah, Risma, mengakui harga cabe merah ditingkat petani saat ini mengalami penurunan. “Memang turun, sekarang saya menjual Rp 35.000 perkilogram. Sebelumnya, sempat Rp.78.000 ribu bahkan sampai Rp 100 ribu lebih. Penurunan ini terjadi sejak sepekan terakhir,” ungkap perempuan muda ini.
Dia mengaku tidak mengetahui pasti apa penyebab terjadinya penurunan harga cabe merah di tingkat petani. Biasanya, dikatakan ibu Tiga anak itu, jelang ramadhan biasanya harga cabe akan naik, seiring dengan kebutuhan masyarakat yang meningkat.
“Kalau penyebab pastinya saya tidak tahu, tapi biasanya jelang puasa naik seiring peningkatan kebutuhan, begitu juga jelang idul Fitri. Mudah mudahan cabe merah bisa kembali naik, sehingga para petani bisa sedikit dapat untung,” harapnya.
Menurutnya, dengan murahnya harga cabe ditingkat petani, jelas petani akan merugi, mengingat harga pupuk yang tergolong masih mahal meski beberapa pupuk subsidi sudah turun. Kemudian juga harga pestisida yang sangat mahal jelas menyulitkan petani dalam memelihara tanaman cabe dari gangguan hama dan ulat.
“Saat ini harga pupuk masih mahal, hanya beberapa jenis pupuk yang disupsidi kemarin turun. Harga pestisida juga mahal, sementara serangan hama penyakit cabe sangat banyak dan beragam. Jika harga jual cabe petani murah, maka tentu yang ada rugi. Harapan kami bisa naik lagi, normalnya Rp 50-60 ribuan lah,” harapnya. (uus)





