BERITA UTAMA

Gegara Hujan Lebat Durasi Lama, Tebing Ngarai Sianok Setinggi 120 Meter Longsor

12
×

Gegara Hujan Lebat Durasi Lama, Tebing Ngarai Sianok Setinggi 120 Meter Longsor

Sebarkan artikel ini
LONGSOR— Tebing Ngarai Sianok mengalami longsor akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam.

BUKITTINGGI,METROSalah satu dinding Tebing Ngarai Sianok mengalami longsor akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam . Titik longsor terbanyak berada di hulu ngarai yang berlokasi di Desa Guguak Tinggi, Kabupaten Agam.

Pantauan di lapangan, tebing setinggi 120 meter dengan lebar 15 meter sejauh lima kilometer terkikis di sepanjang Guguak Tinggi, Kecamatan Ampek Ko­to.

“Hujan deras dengan durasi lama menjadi pemi­cunya, puncaknya terjadi di Kamis (1/1) lalu. Beruntung tidak ada korban jiwa,” kata Kepala Desa Guguak Tinggi, Dasman, Sabtu (3/1).

Lokasi longsor berada di sekitar 1,5 kilometer pemukiman warga yang ma­yoritas bekerja sebagai pe­tani dan pedagang. Su­dut ngarai ini dinamakan warga setempat Ngarai Kaluang.

Namun, beberapa sa­wah warga terpantau ikut terkikis akibat longsoran. Pemerintah desa setempat juga telah melaporkan ke BPBD Agam.

“Longsor itu tidak sekali terjadi, sudah beberapa kali. Kami berkoordinasi dengan pihak terkait khu­susnya di aliran Ngarai Sianok di Bukittinggi untuk cepat menjauh dari aliran sungai saat longsor terjadi,” kata Dasman.

Ia mengatakan tidak ada warga yang dievakuasi karena pergerakan ta­nah di bibir ngarai masih tergolong jauh dan aman dari pemukiman.

“Tapi tetap ditegaskan kepada warga yang beraktivitas bertani atau berkebun untuk tidak mendekati bibir ngarai,” katanya.

Terkait kejadian longsor besar yang sempat terekam warga dan viral di media sosial, Dasman me­ng­ungkap saat itu beberapa pekerja tengah berupaya memperbaiki sumber mata air.

“Saat kejadian, lima warga kami sedang memperbaiki bak air yang dialirkan untuk rumah warga. Kami mengalami krisis air bersih saat ini,” kata Dasman.

Sementara di aliran sungai Ngarai Sianok di Bukittinggi, warga setempat, Rahmat (35) meng­ung­kap terjadi penambahan debit air dari hulu sejak bencana banjir bandang akhir November.

“Titik longsor hanya sebagian kecil di sini, tapi aliran air sungai makin membesar dan merusak fasilitas jalan. Satu mushala bagi pengunjung juga roboh,” kata Rahmat.

Ia menambahkan, pasca bencana membuat wisa­tawan enggan berkunjung ke Ngarai Sianok hingga aktivitas perekonomian ikut menurun.

“Saya berusaha rental pelampung, ada juga rental mobil offroad. Kini belum beraktivitas maksimal ka­rena wisatawan takut ber­kunjung sejak bencana,” pungkasnya.(pry)