SAWAHLUNTO, METRO–Pemko Sawahlunto, baru baru ini menggelar Sawahlunto Cultural Spectrum Festival sebagai upaya diseminasi dan penguatan ekosistem kebudayaan lokal yang berkelanjutan, dengan menampilkan ragam ekspresi seni, tradisi, dan kreativitas masyarakat lintas generasi.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto Syukri mengatakan, festival dirancang sebagai ruang temu antara pelaku budaya, komunitas seni, dan masyarakat luas untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya daerah di tengah dinamika zaman.
“Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi dan diseminasi budaya agar masyarakat, terutama generasi muda, memahami dan mencintai kekayaan budaya Sawahlunto,” ungkap Kabid Kebudayaan Syukri.
Sawahlunto Cultural Spectrum Festival yang berlangsung selama tiga hari, yakni pada 19 sampai 21 Desember 2025 lalu itu berlokasi di kawasan Taman Silo Kota Sawahlunto yang selama ini menjadi ruang publik sekaligus pusat aktivitas seni dan budaya kota.
Beragam penampilan seni akan dihadirkan dalam festival tersebut, antara lain pertunjukan tari tradisional Minangkabau, musik etnik, randai, teater rakyat, serta kolaborasi seni kontemporer yang melibatkan sanggar dan komunitas budaya lokal.
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menyatakan festival yang digelar itu menjadi bagian dari strategi Pemko dalam memperkuat identitas budaya kota sekaligus memastikan nilai-nilai lokal tetap hidup dan relevan dengan perkembangan sosial masyarakat.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi sumber energi untuk membangun karakter masyarakat dan memperkuat jati diri kota. Karena itu, diseminasi budaya harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan partisipasi publik,” sebutnya. (pin)
















