SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Sawahlunto Cultural Spectrum Festival  Miliki Makna, Perkuat Diseminasi Budaya Lokal

2
×

Sawahlunto Cultural Spectrum Festival  Miliki Makna, Perkuat Diseminasi Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
ALAT MUSIK TRADISIONAL— Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra mencoba memainkan alat musik tradisional Talempong Batuang dari Kenagarian Silungkang, pada event Sawahlunto Cultural Spectrum Festival 2025 lalu

SAWAHLUNTO, METRO–Pemko Sawahlunto, baru baru ini menggelar Sawahlunto Cultural Spectrum Festival sebagai upa­ya diseminasi dan penguatan ekosistem kebuda­yaan lokal yang berkelanjutan, dengan menampilkan ragam ekspresi seni, tradisi, dan kreativitas masyarakat lintas generasi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebuda­yaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto Syukri mengatakan, festival di­rancang sebagai ruang temu antara pelaku budaya, komunitas seni, dan masyarakat luas untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya daerah di tengah dinamika zaman.

“Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi dan diseminasi budaya agar ma­sya­rakat, terutama generasi muda, memahami dan mencintai kekayaan budaya Sawahlunto,” ungkap Kabid Kebudayaan Syukri.

Sawahlunto Cultural Spectrum Festival yang berlangsung selama tiga hari, yakni pada 19 sampai 21 Desember 2025 lalu itu berlokasi di kawasan Taman Silo Kota Sawah­lunto yang selama ini menjadi ruang publik sekaligus pusat aktivitas seni dan budaya kota.

Beragam penampilan seni akan dihadirkan da­lam festival tersebut, an­tara lain pertunjukan tari tradisional Minangkabau, musik etnik, randai, teater rakyat, serta kolaborasi seni kontemporer yang melibatkan sanggar dan komunitas budaya lokal.

Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menyatakan festival yang digelar itu menjadi bagian dari strategi Pemko dalam memperkuat identitas budaya kota sekaligus memastikan nilai-nilai lokal tetap hidup dan relevan dengan perkembangan sosial masyarakat.

“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi sumber energi untuk mem­bangun karakter ma­sya­rakat dan memperkuat jati diri kota. Ka­rena itu, diseminasi budaya harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan partisipasi publik,” sebutnya. (pin)