BERITA UTAMA

Galodo Susulan Terjang Maninjau di Malam Tahun Baru, Jalur Bukittinggi–Lubukbasung Terputus Total, Ratusan Warga Mengungsi, 40 Rumah Terdampak

1
×

Galodo Susulan Terjang Maninjau di Malam Tahun Baru, Jalur Bukittinggi–Lubukbasung Terputus Total, Ratusan Warga Mengungsi, 40 Rumah Terdampak

Sebarkan artikel ini
GALODO— Material kayu , lumpur, dan bebatuan terbawa arus sungai Batang Muaro Pisang hingga meluluhlantakkan permukiman warga di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Agam, Kamis (1/1).

AGAM, METRO Banjir bandang kembali menerjang kawasan Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (1/1). Parahnya, dalam sehari,  kawasan tersebut dilanda banjir andang hingga lima kali hingga membuat ratusan warga paniuk menyelamatkan diri ke lokasi pengusian.

Banjir bandang mulai terjadi sejak malam pergantian tahun 2026 dan berlangsung berulang hing­ga sore. Peristiwa ini dipicu oleh longsor susulan di kawasan Kelok 28 dan Kelok 42, yang menyebabkan ma­terial tanah, lumpur, dan bebatuan terbawa aliran Sungai Muaro Pi­sang.

Puluhan rumah warga yang berada di tepi aliranSungai Muaro Pisang terdampak banjir bandang susulan yang terjadi di awal tahun ini. Material lumpur dan kayu ikut masuk ke rumah warga.  Bahkan, akses jalan utama Bukittinggi–Lubuk Basung kembali terputus  total.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, mengatakan longsor terjadi di sekitar Kantor BRI Lama Pasar Maninjau, sekitar pukul 01.45 WIB dan akses jalan terputus total.

“Sebelum kejadian warga melaporkan terdengar gemuruh keras dari arah hulu Sungai Batang Muaro Pisang. Tak lama berselang, aliran sungai membawa material longsor dan memicu banjir bandang yang masuk ke kawasan permukiman,” kata Abdul Ghafur.

Menurut Abdul Ghafur, situasi tersebut membuat warga panik dan berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri, mengantisipasi galodo susulan. Material longsor berupa lumpur, batu besar, dan kayu-kayuan menutup ba­dan jalan provinsi sekaligus merusak sejumlah rumah warga di sekitar bantaran sungai.

“Hingga pagi hari, jalur tersebut belum bisa dilalui kendaraan. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Agam bersama instansi terkait tengah berupaya melakukan pembersihan material agar akses Bukittinggi–Lubuk Basung dapat segera dibuka kembali,” tegas dia.

Abdul Ghafur menambahkan, kondisi cuaca di kawasan Maninjau saat ini cerah, begitu juga tadi malam ketika kejadian tidak terjadi hujan. Namun di perbukitan terjadi longsor dan air yang cukup banyak membawa material lumpur serta bebatuan.

“Hingga kini, air masih mengalir dari perbukitan dan pihaknya mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan. BPBD Agam juga masih memberlakukan status tanggap darurat hingga 5 Januari 2025,” tutur dia.

Nagari Maninjau sendiri sejak akhir November 2025 telah berulang kali dilanda galodo dan longsor setiap kali curah hujan tinggi. Kondisi tanah yang labil di kawasan perbukitan membuat wilayah ini masih rawan bencana susulan.

Kami mengimbau ma­syarakat untuk tetap waspada, terutama yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Batang Muaro Pi­sang dan kawasan lereng perbukitan,” ujarnya.

Kapolsek Tanjung Raya AKP Muzakar, material longsoran menutup alur sungai sehingga air meluap ke jalur lain dan mengarah ke kawasan Pasar Ma­ninjau atau Simpang Ma­nin­jau. Akibatnya, sejumlah rumah warga terdampak dan mengalami kerusakan.

“Meski hujan tidak turun, banjir bandang tetap terjadi. Kondisi ini membuat warga diminta untuk selalu waspada, karena potensi longsor susulan masih tinggi. Hingga sore hari, sekitar 200 warga terpaksa mengungsi ke mushala, rumah kerabat, serta fasilitas pemerintah terdekat,” kata AKP Muzakar.

Di tengah situasi darurat, alat berat telah disiagakan untuk membersihkan material banjir. Namun, proses pembersihan harus dilakukan secara tentatif. Setiap kali banjir bandang kembali turun, pekerjaan dihentikan sementara demi keselamatan petugas.

“Kami dan masyarakat di wilayah hulu Sungai Muaro Pisang juga bekerja sama dengan sistem peringatan dini sederhana. Jika terjadi longsor susulan, informasi segera diteruskan ke wilayah bawah agar warga dan petugas bisa menghindari area berbahaya,” jelas AKP Muzakar.

Di sisi lain Bupati Agam Benni warlis menyebutkan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan upaya pembersihan material long­­sor dengan menggu­nakan alat berat serta petugas gabungan dari TNI,­Polri,Basarnas dan pihak Kecamatan Tanjung Raya

“Berdasarkan ada data yang diperoleh untuk sementara 40 unit rumah yang terdampak banjir bandang dan longsor ini. Namun dalam peristiwa ini tidak ada menimbulkan korban jiwa namun secara kerugian belum bisa ditaksir karena pihaknya masih melakukan penyisiran terhadap barang warga yang terkena longsor seperti motor atau alat alat berharga lainnya,” tutup dia.

Benni menyebutkan, jumlah rumah terdampak berpotensi bertambah karena aliran air sudah melebar ke daerah lain akibat sumbatan material longsor di hulu sungai. Kondisi ini terjadi meski cuaca tidak dalam keadaan hujan pada Rabu, 13 Desember 2025.

Sedikitnya 200 warga mengungsi ke musalah, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintah. Warga panik karena banjir bandang sudah terjadi lima kali sejak akhir November 2025.
”Air sungai disertai material turun beberapa kali, setelah tanah longsor melanda hulu sungai. Kondisi ini kurang baik bagi mereka, karena saat mereka pulang ke rumah, ada bunyi dentuman di hulu sungai, sehingga mereka kembali mengungsi,” ujar Benni.

Benni menuturkan situasi semakin mengkhawatirkan karena alur sungai telah berpindah sehingga mengancam lebih banyak permukiman. Saat ini sebagian aliran sungai mengering setelah berpindah jalur.

“Temuan di lapangan akan dilaporkan ke Gubernur dan Balai Wilayah Sungai (BWS) V untuk mendapatkan penanganan teknis jangka panjang. Bagaimana kita mencarikan ma­salahnya dan saat ini kita hanya menyelesaikan sungai yang tersumbat di hilir sungai apabila terjadi longsor,” pungkas Benni. (pry)