PADANG, METRO -Sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM agar terus berkembang, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Sumatera bagian Utara memberikan modal kepada enam pelaku UMKM di Sumatera Barat sebanyak Rp 615 juta. Pemberian modal tersebut merupakan program kemitraan (PK) Pertamina dengan skema yang berbeda dengan lembaga keuangan lainnya.
Manager Communication dan CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan dari data yang ada, bisnis di Indonesia 99 persen merupakan UMKM, tetapi hanya 20 persen yang punya akses ke lembaga keuangan, sementara sisanya UMKM tersebut tidak punya akses mendapatkan modal dari lembaga keuangan.
“Pinjaman modal yang diberikan Pertamina kepada UMKM ini, biaya administrasi hanya 3 persen. Berbeda dengan lembaga keuangan lainnya yang meminta 6 sampai 7 persen. Keika nantinya dibayarkan kembali oleh mitra binaan, akan dikembalikan lagi kepada mitra binaan dalam bentuk pelatihan,” kata Roby.
Roby menjelaskan skema itulah yang membedakan program kemitraan antara Pertamina dengan lembaga keuangan lainnya. Untuk tahap awal, di Sumbar pihaknya menyalurkan Rp 615 juta, untuk 6 mitra binaan yang sudah mendaftar dan lolos verifikasi oleh Pertamina.
“Program ini terbuka untuk semua pelaku UMKM yang ingin mendapatkan modal pengembangan usaha. Prosedurnya harus melakukan pengisian proposal, yang sudah disediakan oleh Pertamina. Setelah itu kita akan melakukan survey ke lokasi untuk memastikan benar atau tidak ada usahanya,” ungkap Roby.
Roby menjelaska di tahun 2019 Pertamina punya akses terhadap modal yang siap untuk disalurkan kepada mitra binaan sebanyak 16 miliar untuk wilayah Sumatera Bagian Utara. Jika nantinya sudah diberikan modal, para pelaku usaha akan diberikan pembinaan dan pendampingan hingga bisa menjadi mandiri.
“Maksimal modal yang diberikan sebesar Rp 200 juta dengan tenor 3 tahun. Dengan program ini, kita berharap dapat mendukung UMKM untuk terus berkembang dan mandiri. Selain itu, kita juga berharap kedepan, akan lebih banyak lagi UMKM yang mengajukan pinjaman modal kepada kita,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu penerima modal dari Pertamina, Ida Arleni yang merupakan pemilik usaha Sulam Ambun Suri Bukittinggi mengatakan sejak tahun 2015 silam, ia sudah menjadi mitra binaan Pertamina. Sejak itulah, bisnis yang turun remurun dari ibunya itu bisa berkembang.
“Awalnya, usaha sulam ini hanya mempekerjakan 15 orang. Sekarang sudha bisa mempekerjakan 100 orang. Dengan adanya bantuan modal dari Pertamina, saya berharap hasil dari usaha sulam bisa dijual lebih massal lagi, sehingga meningkatkan omset penjualan dan bisa menambah pekerja,” kata Ida.
Ida menjelaskan sebagai mitra binaan, Pertamina tidak hanya memberikan modal, tetapi ia juga diikutkan dalam berbagai pelatihan, maupun pameran di dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, juga selalu diikutkan dalam even-even yang didakan Pertamina, sehingga ia bisa mengenalkan hasil produksinya kepada masyarakat luas.
“Saya berterima kasih kepada Pertamina yang sudah berperan besar mengembangkan dan memajukan usaha kami. Dalam merintis usaha sulam tersebut, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Sangat banyak tantangannya,” pungkasnya. (rgr)





