SOLOK, METRO –Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tercatat sebagai daerah penghasil bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2023, produksi bawang merah Kabupaten Solok mencapai sekitar 216.000 ton per tahun, yang mayoritas dihasilkan dari tiga kecamatan sentra produksi. Untuk kategori bawang merah dataran tinggi, Kabupaten Solok bahkan menempati posisi pertama secara nasional. Sementara itu, daerah dengan produksi bawang merah tertinggi secara keseluruhan masih ditempati Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dengan produksi sekitar 295.000 ton per tahun, yang didominasi bawang merah dataran rendah.
Potensi besar sektor hortikultura tersebut turut menarik minat Yulnofrins Napilus, yang akrab disapa Nofrins, untuk terjun langsung ke sektor pertanian. Saat ini, Nofrins mengelola sekitar enam hektare lahan bawang merah di kawasan Rimbo Tinggi, Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Lokasi lahan tersebut tidak jauh dari kawasan wisata Danau Kembar Alahan Panjang.
Nofrins mengatakan, dirinya telah menekuni budidaya bawang merah selama sekitar satu tahun terakhir. Meski tergolong baru di sektor pertanian, ia mengakui proses pengelolaan lahan hingga penanaman membutuhkan persiapan yang cukup panjang. “Persiapannya memang lama. Sekarang ini baru bersiap menuju panen kedua,” ujar Nofrins, Senin (22/12).
Menurutnya, kawasan Alahan Panjang yang berada di dataran tinggi memiliki kondisi tanah dan iklim yang sangat mendukung pengembangan komoditas hortikultura, termasuk bawang merah. Kedekatan lahan pertanian dengan kawasan Danau Kembar juga dinilai memberikan potensi nilai tambah, baik dari sisi aksesibilitas maupun peluang pengembangan kawasan terpadu antara pertanian dan pariwisata.
Langkah Nofrins terjun ke sektor pertanian melengkapi kiprahnya di berbagai bidang pembangunan di Sumatera Barat. Sebelumnya, ia dikenal aktif di sektor energi, budaya, dan pariwisata.
Sebagai mantan Senior Manager PT Supreme Energy Muara Laboh, Nofrins berperan dalam keberhasilan operasi komersial Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh berkapasitas 85 megawatt, yang menyuplai listrik untuk Solok Selatan serta jaringan kelistrikan Sumatera.
Ia juga terlibat dalam revitalisasi kawasan Saribu Rumah Gadang di Solok Selatan, serta berperan dalam pengembalian lokomotif uap bersejarah Mak Itam ke Kota Sawahlunto sebagai ikon wisata sejarah. Kawasan Sawahlunto sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Melalui pengelolaan lahan bawang merah di Alahan Panjang, Nofrins menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan ekonomi daerah, baik melalui sektor energi, pariwisata, budaya, maupun pengembangan pertanian berkelanjutan. (jef)






