PAYAKUMBUH/50 KOTA

Tak Menyerah Lawan Paru-Paru Basah, Irman Temukan Harapan Lewat Program JKN

0
×

Tak Menyerah Lawan Paru-Paru Basah, Irman Temukan Harapan Lewat Program JKN

Sebarkan artikel ini
Irman salah seorang pengguna JKN

PAYAKUMBUH, METRO  –Setiap pagi, Irman (46), seorang pegawai bank swasta di Payakumbuh, selalu memulai hari de­ngan penuh semangat. Namun, semangat itu sem­pat meredup ketika ia divonis menderita paru-paru ba­sah atau pneumonia, yaitu penyakit yang sempat membuatnya ham­pir kehilangan kemampuan untuk bekerja.

Meski demikian, berkat ketepatan penanganan serta dukungan penuh dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JK­N), Irman berhasil melewati masa sulit itu tanpa beban biaya yang memberatkan. Sebagai pegawai kantoran, Irman menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di ruangan ber-AC dan jadwal kerja yang padat hingga kebiasaan jarang berolahraga membuat daya tahan tubuhnya menurun perlahan tanpa ia sadari. “Awal mula penyakit itu muncul, saya merasakan gejala batuk yang tidak kunjung sembuh, napas semakin pendek dan dada terasa berat. Saya kira hanya flu biasa karena sering bekerja di ruangan dingin,” kenang Irman.

Puncaknya terjadi saat Irman terbangun dengan tubuh menggigil hebat dan napas tersengal, sehingga istrinya, Nova, segera memeriksakan kesehatannya ke puskesmas lewat fitur antrean online dari apikasi Mobile JKN. Di sana, Irman mendapatkan pemeriksaan awal dan dokter merujuk ia ke rumah sakit karena kondisinya telah mengarah pada pneumonia yang cukup parah.

Di balik itu, Irman bersyukur karena telah lama terdaftar sebagai peserta JKN aktif melalui segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) yang iurannya rutin dibayarkan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Berkat kepatuhan dan komitmen perusahaan da­lam mendaftarkan kar­yawannya ke BPJS Kesehatan, Irman terbebas dari beban biaya pengobatan. “Kalau belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, saya ti­dak tahu bagaimana ca­ranya membiayai penyakit ini karena biayanya pasti besar. Berkat JKN, semua prosesnya bisa saya jalani dengan ringan dan tenang,” kata Irman.

Setibanya di RSI Ibnu Sina Payakumbuh, Irman langsung menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk rontgen dada dan tes laboratorium. Ha­silnya mengonfirmasi a­danya infeksi serius pada paru-paru dan tim dokter segera memberikan penanganan intensif berupa antibiotik, terapi oksigen, serta pemantauan ketat. “Dari hasil pemeriksaan, saya mengidap penyakit pneumonia yang me­nye­babkan penumpukkan cairan di dalam paru-paru saya dan dokter menya­rankan agar cairan tersebut segera dikeluarkan. Namun, saya takut untuk menjalani tindakan medis tersebut dan memilih metode pengeluaran cairan dengan minum obat saja,” ujar Irman.

Masa perawatan Irman berlangsung cukup lama dan dokter selalu mengevaluasi per­kem­bangannya, serta me­mastikan ia tetap nyaman dan mendapatkan terapi tepat waktu. Semua tindakan medis, rawat inap, obat-obatan, hingga laboratorium ditanggung oleh BPJS Kesehatan sesuai prosedur.

“Saya dirawat inap selama 1 minggu dan menjalani rawat jalan selama 3 bulan, bayangkan saja kalau harus bayar sendiri, mungkin bisa menghabiskan jutaan rupiah. Tetapi, semua biaya layanannya ditanggung oleh JKN sesuai prosedur dan kami sama sekali tidak mengeluarkan biaya,” ung­­kap Irman.

Pihak rumah sakit pun turut memberikan edukasi mengenai penyakitnya, termasuk pentingnya men­jaga pola hidup yang le­bih sehat setelah sembuh nanti. Irman juga mendapatkan pelayanan yang memuaskan dan membuat proses penyembuhannya berjalan lebih cepat. “Dokter dan perawatnya ramah dan sabar, mereka selalu memberikan dukungan moral agar saya semangat untuk sem­buh. Kami pun tidak dipusingkan oleh urusan administrasi karena semuanya dibantu oleh petugas,” tambah Irman.

Pengalaman itu menjadi titik balik bagi Irman. Sebagai pegawai kantoran yang sebelumnya ja­rang memperhatikan ke­sehatan, kini ia menjadi lebih sadar betapa pentingnya keberadaan jaminan kesehatan. “Sebe­lumnya saya menganggap bahwa potongan iuran setiap bulan merupakan pengeluaran tambahan. Tetapi setelah menderita penyakit ini, saya benar-benar paham betapa berharganya program JK­N,” terang Irman.

Irman tidak pernah menyangka, dengan berbekal kartu JKN tersebut seluruh pengobatannya dapat diselesaikan tanpa biaya tambahan sedikit pun. Ia menilai, tidak pernah menemukan kendala apa pun selama berobat menggunakan kartu JKN. “Sangat disayangkan jika masih ada orang yang mengatakan jika berobat pakai BPJS Kesehatan itu ribet karena faktanya sa­ya bisa berobat dengan nyaman dan gratis hingga sembuh. Bahkan, pelayanannya pun tidak ada perbedaan dengan pa­sien umum dan tidak ada ba­tasan hari rawat inapnya,” tegas Irman.

Irman berharap agar BPJS Kesehatan dapat memperkuat layanan dan menjadi penopang kesehatan bagi warga yang membutuhkan. Baginya, pengalaman sakit adalah pengingat untuk lebih meng­hargai kesehatan dan bersyukur atas kemudahan yang ia dapatkan melalui program JKN. “Program JKN merupakan salah sa­tu alasan kenapa saya masih bisa bekerja dan berada di sini hari ini. Untuk warga lainnya perca­yalah, manfaat BPJS Kesehatan itu sangat besar dan nyata, mungkin hari ini kita belum sakit dan bisa jadi suatu saat kita akan membutuhkannya” pungkas Irman. (uus)