METRO PADANG

ISPA dan Penyakit Kulit Meningkat di Lokasi Pengungsian, Dinkes Padang Intensifkan Edukasi Kesehatan

0
×

ISPA dan Penyakit Kulit Meningkat di Lokasi Pengungsian, Dinkes Padang Intensifkan Edukasi Kesehatan

Sebarkan artikel ini
ANTRE AIR BERSIH— Sejumlah warga terlihat antre air bersih di lokasi terdampak banjir dan banjir di Kota Padang.

PADANG, METRODinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang terus melakukan kun­jungan ke sejumlah posko bencana di kawasan terdampak banjir bandang. Dari hasil pemantauan lapangan, terjadi peningkatan tren pe­nyakit di kalangan warga pe­ngung­si.

“Kunjungan kami dilakukan setiap hari. Tren penyakit tertinggi saat ini adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA),” ujar Kepala Dinas Kesehatan Padang, dr. Srikurnia Yati, Kamis (4/12).

Peningkatan kasus ISPA dipicu kondisi cuaca ekstrem yang me­nye­babkan turunnya daya tahan tubuh para pengungsi, terutama mereka yang terdampak langsung bencana. Selain itu, debu akibat lumpur yang mengering di area permukiman menjadi faktor tam­ba­han yang memperburuk kondisi kesehatan.

Untuk mencegah penyebaran penyakit, Dinkes Padang terus memberikan edukasi kesehatan kepada warga setiap melakukan kun­ju­ngan ke posko. Para pe­ngung­si diimbau mem­per­banyak konsumsi air putih yang telah disediakan da­lam bentuk air mineral ke­ma­san.

“Di pengungsian, air mineral sebenarnya sudah tersedia dan aman. Namun warga mengonsumsinya dalam jumlah yang sangat minim. Padahal tubuh mem­butuhkan sekitar dua liter air setiap hari,” jelas dr. Srikurnia.

Selain memperbanyak konsumsi air putih, warga juga diimbau menjaga pola hidup seimbang, memperbanyak istirahat, dan mengonsumsi buah serta sayur agar imunitas tetap terjaga. Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tetap menggunakan masker ka­rena jumlah debu di wila­yah terdampak banjir ma­sih tinggi. Sebelumnya, Dinkes telah membagikan masker kepada para pengungsi.

Selain ISPA, tren penyakit kulit juga mengalami peningkatan. Sebelum ban­jir, masyarakat pada umumnya menggunakan air bersih dari PDAM. Namun pascabencana, aliran PDAM terputus sehingga warga terpaksa memakai air sumur dan sumber lain yang cenderung keruh dan tidak layak.

“Kami mengimbau war­ga untuk menyaring air sebelum digunakan. Kami juga terus memberikan edukasi pencegahan penyakit kulit,” ujar Yati. Ia berharap pasokan air PDAM dapat segera kembali normal ke rumah warga.

Hingga saat ini lebih dari 14.000 warga masih mengungsi di sejumlah posko. Daerah yang mengalami dampak terparah antara lain Tabiang Banda Gadang, Gurun Laweh, Ba­tu Busuak, Guo, dan Lubuk Minturun, dengan sebagian rumah warga terendam lumpur hingga dua meter serta suplai air bersih yang sangat terbatas. (brm)