AGAM/BUKITTINGGI

16 Kecamatan Terdampak, Kerugian Bencana Hidrometeorologi di Agam Tembus Rp45,48 Miliar

0
×

16 Kecamatan Terdampak, Kerugian Bencana Hidrometeorologi di Agam Tembus Rp45,48 Miliar

Sebarkan artikel ini
TINJAU LOKASI TERDAMPAK— Rombongan Bupati Agam bersama Direktur Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi dan SDA BNPB, Eny Supartini, saat meninjau lokasi terdampak banjir bandang di Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Sabtu (29/11).

AGAM, METRO–Kabupaten Agam me­ngalami kerugian besar akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wi­layah tersebut selama sepekan terakhir. Total kerugian ditaksir mencapai Rp45,48 miliar, meliputi kerusakan fasilitas umum, rumah warga, irigasi, lahan pertanian, hingga sektor perikanan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Agam, Roza Syafdefianti, Minggu (30/11) mengatakan kerugian tersebut ter­sebar di 16 kecamatan. Angka itu berdasarkan la­poran terbaru dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupa­ten Agam.

“Kerusakan terjadi merata di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, perumahan, hingga pertanian dan perikanan,” ujarnya.

Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu yang paling dominan. Jalan rusak sepanjang 2.801 me­ter menimbulkan kerugian sekitar Rp3,45 miliar, sementara jembatan yang rusak di Sungai Rangeh dan Surantiah, Kecamatan Tanjung Raya, diperkirakan menambah kerugian Rp700 juta. Kerusakan jaringan Pamsimas sepanjang 6.780 meter menyebabkan kerugian hingga Rp1 miliar. Adapun kerusakan pada Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) tercatat paling besar, yakni mencapai Rp19,08 miliar.

Di sektor perumahan, sebanyak 545 unit rumah warga terdampak, terdiri dari 49 rusak berat, 28 rusak sedang, dan 468 rusak ringan. Total kerugian pada sektor ini diperkirakan Rp13,9 miliar. Kerusakan terjadi akibat berbagai bentuk bencana, seperti angin kencang, banjir, banjir bandang, pohon tumbang, hingga tanah longsor.

Fasilitas pendidikan juga tak luput dari dampak bencana, dengan 55 unit rusak dan kerugian mencapai Rp705 juta. Selain itu, 11 unit irigasi terdampak parah.

Sektor pertanian mencatat kerusakan pada la­han seluas 555,76 hektare, menyebabkan kerugian sekitar Rp5,4 miliar. Kerugian pada sektor peternakan tercatat Rp50,5 juta.

Kerusakan paling besar berikutnya terjadi di sektor perikanan. Di Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, banjir bandang me­rusak 12,5 hektare lahan perikanan, dengan 4.625.000 be­nih ikan mati—mengakibatkan kerugian Rp465,5 juta, ditambah kematian 7.650 induk ikan dengan kerugian Rp191,3 juta. Di lokasi yang sama, lahan perikanan lainnya tertimbun 2,5 hektare, de­ngan kerugian Rp50 juta dan kematian 860 ribu ekor benih ikan senilai Rp86 juta.

Di Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, luapan air Danau Maninjau menyebabkan delapan ton ikan mati, dengan kerugian Rp184 juta. Sementara di Pasia Panjang, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, banjir me­ngakibatkan 40 unit alat tangkap hanyut, dua me­sin tempel 15 PK hilang, dan satu perahu hanyut, de­ngan total kerugian Rp150 juta.

Di Kamang Hilia, Kecamatan Kamang Magek, banjir menyebabkan sekitar dua ton ikan lele hanyut akibat luapan Sungai Batang Agam, menimbulkan kerugian Rp50 juta.

Hingga kini, pemerintah daerah masih melakukan pendataan lanjutan sekaligus penanganan darurat di kawasan terdampak. (pry)