SOLOK/SOLSEL

Pastikan Bantuan Diterima, Dinas Sosial Pasang Identitas Rumah KPM 

0
×

Pastikan Bantuan Diterima, Dinas Sosial Pasang Identitas Rumah KPM 

Sebarkan artikel ini
PEMASANGAN STIKER— Kepala Dinas Sosial Kabupaten Solok, Desmalia Ramadhanur dan tim gabungan Dinsos melakukan pemasangan stiker identitas rumah warga KPM.

SOLOK, METRO–Rumah masyarakat yang terdata sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di daerah Kabupaten Solok, dipa­sang penanda sebagai id­entitas penerima manfaat.  Kebijakan penandaan identitas pada rumah KPM program PKH ini menjadi stra­tegi baru untuk memper­kuat akurasi data kemiskinan, memperbaiki ketepatsasaran bantuan, serta mendorong keluarga yang telah sejahtera untuk keluar dari program secara te­ratur.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Solok, Desmalia Ramadhanur, menjelaskan bahwa pemasangan identitas ini bukan sekadar penanda administratif. Te­tapi menjadi alat kontrol sosial yang memastikan bahwa bantuan diterima oleh warga yang benar-benar masih berada dalam kondisi miskin.

Menurutnya, penandaan ini juga memudahkan verifikasi terhadap keluarga yang layak menerima namun belum tercatat da­lam data PKH. “Dengan identitas ini, kita bisa me­ngetahui siapa penerima PKH di lapangan, termasuk mereka yang seharusnya layak tetapi belum terakomodir. Data menjadi lebih akurat sehingga bantuan dapat benar-benar tepat sasaran,” katanya.

Setelah pendataan di­perkuat, Dinas Sosial akan mengintegrasikan hasil verifikasi tersebut ke da­lam proses graduasi, yaitu mekanisme keluarnya keluarga dari PKH karena sudah tidak lagi memenuhi syarat. Desmalia menegaskan bahwa graduasi menjadi komponen penting dalam menjaga keberlanjutan dan keadilan program perlindungan sosial.

Menurutnya, ada dua jenis graduasi PKH yang a­kan diterapkan yakni graduasi alami, yakni keluarnya keluarga dari program karena tidak lagi memenuhi komponen penerimaan.

Sementara graduasi mandiri sejahtera, yaitu keluarnya keluarga dari PKH karena kondisi sosial ekonominya telah membaik. Graduasi jenis ini dapat terjadi secara sukarela maupun berdasarkan rekomendasi pendamping dan hasil asesmen lapangan yang menunjukkan bahwa KPM sudah tidak lagi bergantung pada bantuan sosial.

Dampak dari sosialisasi kebijakan ini sudah mulai terlihat. Sejumlah KPM yang merasa ekonominya telah membaik menyatakan mundur secara sukarela.

“Ada keluarga yang dulu miskin karena beban biaya pendidikan anak. Setelah anak tamat dan bekerja, ekonominya meningkat, dan mereka memutuskan mundur agar bantuan dialihkan kepada yang lebih membutuhkan,” sebut Desmalia.

Kebijakan pemasangan identitas ini juga tidak le­pas dari praktik di daerah lain yang telah terbukti efektif memperbaiki akurasi data kemiskinan. Solok mengadopsinya sebagai bentuk komitmen untuk me­ning­katkan kualitas pendataan dan menjaga kepercayaan publik terhadap program PKH.

Melalui kebijakan pemasangan identitas KPM dan penerapan graduasi PKH secara terstandar, Kabupaten Solok berharap distribusi bantuan sosial semakin tepat sasaran. Sementara keluarga yang masih produktif didorong untuk bangkit dan mandiri. (vko)