AGAM, METRO–Nasib pahit harus ditelan para petani keramba jala apung di Danau Maninjau menjelang penghujung tahun 2025. Puluhan ton ikan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga ditemukan mati mendadak, membuat masyarakat terdampak mengalami kerugian besar.
Salah seorang petani keramba, St. Mantari, pada Kamis (27/11), mengungkapkan bahwa kematian ikan terjadi dalam jumlah besar dan sangat mengejutkan. Ia menilai kondisi cuaca ekstrem menjadi penyebab utama.
“Dalam sepekan ini angin sangat kencang, membuat riak dan arus danau lebih kuat dari biasanya. Ditambah curah hujan tinggi, kadar oksigen dalam air menipis, sehingga ikan kuat dugaan mati mendadak karena kekurangan oksigen,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Daerah dapat turun tangan membantu petani keramba yang terdampak. Menurutnya, perekonomian masyarakat sekitar Danau Maninjau sangat bergantung pada keramba jala apung.
“Petani keramba di Maninjau selama ini berperan penting menjaga pasokan ikan ke berbagai daerah. Dalam kondisi seperti ini, kami sangat membutuhkan kehadiran pemerintah,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Rosva Deswira, membenarkan kejadian tersebut. Menurut informasi awal yang diterima pihaknya, kematian ikan terjadi hampir merata di kawasan salingka Danau Maninjau.
“Kuat dugaan sementara kematian ikan pemilik KJA dipicu curah hujan tinggi. Untuk sementara ini baru terdata sekitar 12 petak keramba di Kota Malinta, dan pendataan masih terus berlangsung,” jelas Rosva.
Ia mengakui proses pendataan berjalan lambat akibat keterbatasan sumber daya manusia dan kondisi cuaca ekstrem di lapangan. Banyak akses jalan menuju kawasan danau terputus oleh banjir dan longsor, sehingga tim kesulitan menjangkau semua titik keramba.
Untuk nilai kerugian total, pihaknya belum dapat memastikan, namun diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Selain di Kota Malinta, kematian ikan keramba juga dilaporkan terjadi di Nagari Tanjung Sani, Sigiran, Sungai Tampang, Bayua, dan beberapa titik lainnya.
Rosva mengimbau para petani agar tidak membuang bangkai ikan ke dalam danau.
“Kalau bangkai ikan dibuang ke danau, itu akan memperparah pencemaran air. Kami minta agar ikan dikumpulkan dan dikuburkan untuk mencegah dampak lanjutan,” pesannya.
Pendataan dan langkah penanganan sementara masih terus dilakukan oleh dinas terkait, sembari menunggu kondisi cuaca membaik. (pry)





