PADANG, METRO–Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang melanda Kota Padang sejak beberapa hari terakhir, menimbulkan dampak kerusakan yang luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat belasan peristiwa pohon tumbang melumpuhkan akses jalan warga, dan badan jalan juga retak.
Senin (24/11) pagi, guyuran hujan deras yang berlangsung cukup tinggi pada pada Sabtu (22/11) dan Minggu (23/11), menyebabkan badan jalan di Bukit Peti-Peti, RT 01 RW 01, Kelurahan Teluk Bayur, Kecamatan Padang Selatan, mengalami keretakan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan kondisi tersebut pertama kali terpantau sekitar pukul 09.30 WIB saat tim melakukan monitoring ke lokasi.
Ia menjelaskan, hujan deras diduga melemahkan struktur tanah, sehingga badan jalan mengalami keretakan dan amblas.
“Perkiraan panjang retakan mencapai sekitar 50 meter. Satu jalur akses masyarakat juga tidak dapat dilewati karena kondisi jalan yang terus mengalami pergeseran,” jelasnya.
Selain merusak badan jalan, retakan tanah itu juga mengancam dua titik tiang listrik di kawasan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Tim Reaksi Cepat (TRC) PB BPBD Kota Padang bersama jajaran Polsek Padang Selatan telah memasang police line di sekitar lokasi terdampak.
Menghadapi kondisi tersebut, Hendri mengimbau masyarakat agar berhati-hati dan tidak melintas menggunakan kendaraan bermuatan berat.
“Truk bermuatan tidak diperbolehkan melintas karena pergerakan tanah masih terjadi. Kami ingin memastikan keamanan warga sebelum akses benar-benar stabil,” ujarnya.
Di sisi lain, erdasarkan data rekapitulasi Pusdalops, intensitas bencana meningkat signifikan selama akhir pekan.
“Iya, sejak Jumat lalu hingga hari Minggu ini ada sekitar 18 pohon yang tumbang,” ungkap Hendri Zulviton, kemarin.
Hendri menjelaskan bahwa sebaran lokasi kejadian cukup merata, namun wilayah utara Kota Padang menjadi titik terparah.
“Pohon tumbang paling banyak terjadi di Kecamatan Koto Tangah. Seluruh kejadian di hari Sabtu itu di Kecamatan Koto Tangah,” terangnya.
Belasan Pohon Tumbang
Sementara itu, berdasarkan data rekapitulasi Pusdalops, pada Jumat (21/11) terdapat enam titik pohon tumbang, antara lain di Seberang Padang, Padang Besi, Korong Gadang, dan Dadok Tunggul Hitam. Sementara pada Sabtu (22/11), kejadian bergeser ke Tanjung Aur, Koto Panjang Ikur Koto (KPIK), Pasie Nan Tigo, Anak Aie, dan dua titik di Lubuk Minturun.
Cuaca buruk dan hujan deras terus berlanjut hingga Minggu (23/11). BPBD menerima laporan pohon tumbang di Kampung Pondok, Purus, Pisang, Kampung Baru, dan Korong Gadang.
Hendri menambahkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya terbatas pada pohon tumbang.
Selain pohon tumbang juga ada tanah amblas di Mata Air Padang Selatan, serta genangan air di Gunung Panggilun, Kecamatan Nanggalo. Kemudian, terjadi banjir di jalan DPR, Dadok Tunggul Hitam.
Warga dan Nelayan Diimbau Waspada
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau melansir peringatan dini bagi seluruh daerah di Sumatera Barat. Peringatan dini bencana hidrometeorologi diprediksi melanda Sumbar, termasuk Kota Padang, pada 21-27 November 2025.
Kondisi cuaca di perairan Sumatera Barat saat ini terbilang ekstrem. Terjadinya peningkatan intensitas hujan dan gelombang laut karena adanya daerah pertemuan massa udara di wilayah barat Samudera Hindia.
Hendri menyebut, dampak bencana hidrometeorologi dapat saja terjadi, seperti, banjir, longsor dan cuaca ekstrem (abrasi serta pohon tumbang). Menurut Hendri Zulviton, keselamatan menjadi hal penting dan utama.
“Kita juga imbau kepada nelayan untuk juga waspada,” katanya.
Nelayan diimbau untuk tidak melaut apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan. Kecepatan angin di atas 15 knot dan ombak setinggi dua meter cukup berbahaya jika tetap melaut. “Pantau terus kondisi cuaca sebelum melaut,” imbau Hendri.
“Mengingat kondisi cuaca ekstrem, kami mengimbau warga Padang untuk siaga dan waspada terhadap potensi bencana. Semoga ke depan tidak terjadi bencana,” pungkas Hendri. (brm)






