PADANG, METRO–Kota Padang sudah seperti Kota Padang Panjang saja sejak 3 hari terakhir. Bahkan, sepanjang akhir pekan kemarin, Sabtu-Minggu (22-23/11), matahari malu-malu menampakkan sinarnya di langit. Cuaca atau suhu bahkan tercatat 25-26 derajat celcius di siang hari.
Hujan lebat disertai angin kencang tiada henti turun sejak pagi hingga malam hari. Genangan air terjadi hampir sepanjang ruas jalan di Kota Padang. Seperti, di kawasan Khatib Sulaiman, Lapai, Siteba, kemudian di kawasan Lolong, Raden Saleh, Ulakkarang. Genangan air cukup tinggi juga terlihat di jalan Adinegoro, Lubukbuaya.
Banyak pengendara harus memapah motornya karena air cukup tinggi. Bahkan, beberapa angkot memilih untuk tidak manambang karena takut angkutan miliknya bakal mogok di tengah jalan.
“Sejak pagi sudah hujan. Intensitasnnya sangat tinggi, jadi terpaksa hanya beberapa trip saja manambang,” ungkap Andi (35), salah seorang sopir angkot jurusan Pasar Raya-Lubukbuaya, Minggu (23/11).
Ia juga mengaku, jika hujan sangat deras, maka pekerjaan dia sebagai sopir akan terganggu. Pasalnya, angkotnya sudah tua dan tidak bisa masuk air. Selain itu, hujan lebat juga menyebabkan penumpang sepi.
“Angkot saya sudah tua. Kalau lewat di jalan dan ada genangan air yang tinggi, maka akan ngadat. Belum lagi, kalau hujan ini penumpang sepi. Banyak yang memilih naik gocar atau maxim mobil,” keluh Andi.
Sementara itu, cuaca ekstrem sejak Sabtu (22/11) hingga Minggu juga menyebabkan rentetan kejadian pohon tumbang. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, sedikitnya tiga lokasi terdampak parah hingga menutup akses jalan masyarakat.
Pohon tumbang pertama dilaporkan terjadi pada Sabtu malam pukul 21.20 WIB di Jalan Dobi, tepatnya di depan Hotel Pangeran City, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat.
Pohon jenis patai-patai setinggi 12 meter dengan diameter 70 sentimeter tumbang melintang di badan jalan. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Padang segera bergerak cepat membersihkan material pohon sehingga akses jalan kembali normal malam itu juga.
Kemudian, sekitar pukul 22.30 WIB, pohon dadok raksasa dengan ketinggian mencapai 17 meter dan diameter 1 meter tumbang di Jalan Pasia Jambak RT 03 RW 06, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah. Ukuran pohon yang besar sempat menyulitkan akses warga sebelum akhirnya ditangani oleh petugas gabungan.
Pada pukul 02.00 dinihari wib, gudang Bima Putra, yang berada di jalan By pass, KM 7, No 88, RT 007, RW 004, Kelurahan Pisang, Kecamatan Pauh, menimpa atap pada gudang tersebut dan menyebabkan kerugian sekitar Rp5.000.000.
Tim BPBD Kota Padang bersama stakeholder terkait melakukan pembersihan pada gudang tersebut pada Minggu pagi.
Pohon tumbang kembali terjadi pada Minggu pagi (23/11) pukul 08.25 WIB. BPBD Padang kembali menerima laporan kejadian pohon tumbang di Kompleks Graha 3 Sungai Duo, Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah.
Selain itu juga dilaporkan terjadinya pohon tumbang di kawasan Anak Air, Kelurahan Batipuh Panjang, Kecamatan Koto Tangah. Pohon rambutan sepanjang 20 meter dengan diameter 80 cm, tumbang dan menghambat akses jalan masyarakat.
Tim TRC BPBD di bawah komando Kepala Pelaksana (Kalaksa) dan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik masih berjibaku melakukan pembersihan di lapangan bersama TNI, Polri, dan warga setempat.
Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan bahwa kejadian ini murni dipicu oleh faktor cuaca. Menurutnya, hujan intensitas tinggi yang disertai angin kencang membuat akar pohon tidak mampu menahan beban batang yang berat.
“Hujan intensitas tinggi disertai angin kencang mengakibatkan pohon-pohon dengan ukuran besar tidak mampu bertahan dan tumbang. Beruntung, dari seluruh kejadian ini tidak ada korban jiwa,” ungkap Hendri.
Merespons kondisi cuaca yang belum menentu, BPBD Kota Padang mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir genangan dan pohon tumbang masih mengintai. (brm)






