PASAMAN, METRO– Gambir Pasaman terus menunjukkan posisi strategis sebagai salah satu komoditas unggulan Sumatera Barat. Dalam kunjungan kerjanya ke Kecamatan Mapattunggul Selatan, kemarin. Bupati Pasaman Welly Suhery menegaskan bahwa gambir Pasaman memiliki kualitas yang mampu menembus pasar ekspor sehingga layak dikelola lebih optimal untuk mendorong ekonomi masyarakat.
Disebutkan Welly bahwa Mapattunggul Selatan merupakan satu-satunya kecamatan penghasil gambir Pasaman, sehingga potensi ini perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pendapatan warga dan daerah. Bahkan rencananya Kementerian Pertanian RI bakal membangun pabrik pengolahan gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, yang menurutnya akan memperlancar akses komoditas tersebut menuju pasar internasional. “Ini menjadi peluang bagi kita untuk memperkuat nilai jual gambir Pasaman,” ucap Welly saat berdialog dengan petani, tokoh masyarakat, pemuka adat, dan generasi muda di Mapattunggul Selatan.
Ia menyampaikan optimisme bahwa keberadaan pabrik tersebut tidak hanya mempermudah pemasaran, tetapi juga memperkuat nilai tambah dan daya saing gambir Pasaman. “Kesempatan ini sangat berharga, jadi mari kita manfaatkan sebaik mungkin,” tegasnya, disambut antusias masyarakat.
Bupati Welly mengingatkan bahwa hanya tiga daerah di Sumbar—Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Kabupaten Pasaman yang memproduksi gambir dalam skala besar. Karena itu, ia meminta masyarakat Muaro Sungai Lolo dan Mapattunggul Selatan untuk fokus mengembangkan komoditas bernilai strategis tersebut.
Ia menyoroti data Dinas Pertanian yang menunjukkan Pasaman memiliki 630 hektare lahan gambir dengan produktivitas 350 kilogram per hektare sekali panen. Total produksi gambir Pasaman bahkan dapat mencapai 182,4 ton. “Potensi ekonominya sangat besar dan siap kita gerakkan. Pemkab Pasaman akan mendukung penuh upaya pengembangannya,” sebutnya.
Di tempat yang sama, Kepala Jorong 3 Pangian, Abdul Gafar, menyampaikan bahwa kualitas gambir Pasaman hasil produksi masyarakatnya telah memenuhi standar ekspor. Namun, mereka membutuhkan alat produksi yang memadai untuk menjaga kualitas dan meningkatkan efisiensi. “Produksi gambir masyarakat di sini sudah setara ekspor. Karena itu, kami memohon bantuan alat pres gambir. Satu kebun bisa menghasilkan 120 kilogram dalam satu minggu dengan tiga pekerja. Secara total, Mapattunggul Selatan mampu menghasilkan 3 ton per minggu,” jelasnya. Untuk memperkuat kapasitas produksi, Abdul Gafar meminta Pemkab Pasaman menyediakan tujuh unit alat pres bagi petani atau kelompok tani. “Kami sangat membutuhkan mesin pres ini,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Welly menyampaikan bahwa Pemkab Pasaman sudah mengajukan pengadaan sepuluh unit mesin pres gambir ke kementerian untuk Tahun Anggaran 2026. “Usulan ini sudah kita masukkan untuk direalisasikan pada 2026,” tandasnya. (ped/rel)





