METRO BISNIS

Inflasi Sumbar kembali Meningkat pada Oktober 2025, Kenaikan Harga Cabai Merah dan Emas jadi Pemicu

0
×

Inflasi Sumbar kembali Meningkat pada Oktober 2025, Kenaikan Harga Cabai Merah dan Emas jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
SIDAK—Kepala Perwakilan BI Sumbar melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memperoleh informasi harga dan jumlah pasokan cabai merah, bawang merah dan beras.

PADANG, METRO–Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) kembali menga­lami inflasi pada Oktober 2025. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi secara umum tercatat sebesar 0,40% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Sumbar, M Abdul Majid Ikram mengatakan, pe­micu utama terjadi inflasi disebabkan harga cabai merah dan emas. Dua komoditas ini menjadi motor utama lonjakan inflasi bulan lalu.

“Kenaikan harga cabai merah ini dipengaruhi oleh terbatasnya produksi lokal serta kelangkaan pasokan dari luar provinsi. Semen­tara itu, peningkatan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan harga emas global. Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi dapat tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan, khusus­nya bawang merah,” ucapnya, Selasa (4/11).

Dijelaskan Abdul Majid, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan inflasi 0,47 persen (mtm) dengan andil 0,16 persen. Hal ini di­sebabkan oleh pe­ningkatan harga cabai merah, ikan cakalang/ikan sisik, dan daging ayam ras.

“Cabai merah naik 21,76 persen (mtm) dam­pak terbatasnya pasokan dari sentra produksi lokal Sumbar maupun daerah sekitar, seperti Sumatera Utara dan Aceh karena musim kering yang terjadi pada masa tanam. Pe­ning­katan harga ikan cakalang disebabkan oleh hasil tangkapan yang terbatas akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung,” ucap Majid.

Sementara itu, kata Abdul Majid, kenaikan harga daging ayam ras dipe­ngaruhi oleh meningkatnya harga pakan ternak. Di sisi lain, harga bawang merah turun 20,58 persen (mtm) sejalan dengan membaiknya produksi lokal dan stabilnya pasokan dari sentra nasional.

“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi sebesar 3,98 persen (mtm) dengan andil 0,21 persen yang didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan sebesar 13,99 persen (mtm) sejalan de­ngan penguatan harga emas global. Pemangkasan suku bunga The Fed dan instabilitas kondisi geopolitik menjadi penyebab pe­nguatan harga emas,” tuturnya.

Abdul Majid menambahkan, secara spasial, hampir seluruh kabupaten/kota pencatat indeks harga konsumen (IHK) di Sumbar mengalami inflasi, ke­cuali Kabupaten Dharmasraya. Kota Padang mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 0,52 persen (mtm), Kabupaten Pasaman Barat 0,41 persen (mtm), dan Kota Bukittinggi 0,16 per­sen (mtm). Sementara, Kabupaten Dharmasraya mencatatkan deflasi 0,20 persen (mtm). Secara kumulatif, perkembangan harga di Provinsi Sumbar hingga Oktober 2025 sebesar 3,87 persen (ytd), melampaui batas atas sasaran inflasi 2,51 persen.

“Oleh karena itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar perlu penguatan strategi stabilisasi harga pangan agar tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran. Yang perlu dilakukan yakni menjaga kecukupan pasokan di masing-masing da­erah, salah satunya de­ngan memperkuat kerjasama antar daerah. Intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM) kepada ma­sya­rakat konsumen di seluruh kabupaten/kota di lokasi yang tepat sasaran dengan menjual komoditas pemicu inflasi, terutama cabai merah,” tutur Abdul Majid.

Strategi selanjutnya, kata Abdul Majid, memperkuat komunikasi publik yang efektif melalui penyebaran informasi jadwal pasar murah/GPM se-Sumatera Barat melalui media cetak,online, dan media sosial. Memperkuat koordinasi pe­ngendalian inflasi antar instansi melalui penyelenggaraan ra­pat koordinasi TPID yang le­bih intensif di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

“Dengan sinergi berbagai pihak yang terus di­perkuat, TPID Sumatera Barat optimis program pengendalian inflasi pa­ngan akan berjalan efektif. Komitmen ini akan terus dijaga untuk memastikan inflasi Sumbar tetap terkendali dalam rentang 2,51 persen (yoy) pada keseluruhan tahun 2025,” tutup­nya. (rgr)