SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Komisi 1 DPRD Raker Bersama Disdik, Dinsos dan Dinkes, Kasus Bunuh Diri Pelajar Ciderai Dunia Pendidikan Sawahlunto

0
×

Komisi 1 DPRD Raker Bersama Disdik, Dinsos dan Dinkes, Kasus Bunuh Diri Pelajar Ciderai Dunia Pendidikan Sawahlunto

Sebarkan artikel ini
RAPAT KERJA KOMISI— Komisi 1 DPRD Kota Sawahlunto menggelar rapat kerja dengan Asisten 1, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Kapolsek Barangin dan instansi terkait lainnya, kemarin.

SAWAHLUNTO, METRO–Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sawahlunto gelar Rapat Kerja Komisi 1 dengan Asisten 1, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Kapolsek Ba­rangin dan instansi terkait lainnya, Selasa (4/11). Ra­pat Kerja Komisi 1 ini dilatarbelakangi dengan viralnya dalam sebulan telah terjadi kasus bunuh diri  atau “Bundir” oleh dua o­rang pelajar SLTP Kota Sawahlunto. Dimana dinilai masyarakat Sawahlunto meresahkan dan mencederai dunia pendidikan karena kejadiannya pun di sekolah masing-masing dari kedua pelajar tersebut.

Ditambah dengan status Kota Sawahlunto a­dalah Kota Layak Anak. Maka pihak anggota DPRD Sawahlunto khususnya Komisi 1 yang membidangi Pendidikan, Kesehatan, Sosial dan Ketenagakerjaan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kepemudaan dan Olahraga, dan Pemerintahan Umum terpanggil untuk segera menyikapi persoalan ini.

Dijelaskan oleh Ketua Komisi 1 DPRD Sawahlunto Ronny Eka Putra, me­ngatakan bahwa kedua kejadian ini merupakan signal, aba-aba agar dari pihak sekolah sendiri lebih terbuka dan jujur dalam menghadapi setiap persoalan anak.  “Tupoksi dari guru BK itu lebih diperjelas, dirinci dan dipertajam. Jika di sekolah siswa kelihatan murung, menyendiri dan hal-hal lainnya yang tidak biasanya mohon dipanggil, ditanya dan dibantu mencarikan solusinya,” ungkap Ronny Eka Putra.

Kemudian kata Ronny Eka Putra, guru piket juga harus aktif dalam melaksanakan tugasnya berkeli­ling dan mengawasi ling­kungan sekolah, tugas Satpam pun dalam pengamanan lebih diperketat. Karena sebagian waktu dari anak berada di se­kolah sebagai seorang siswa.

Selain itu memang me­lalui Kominfo dan Dinas Sosial, MUI agar tidak pernah lepas dari memberikan himbauan kepada Orang Tua dan masyarakat Sawahlunto, agar lebih memperhatikan anak, mendengarkan keluhannya, menggunakan bahasa yang menyejukkan.

“Namun juga tetap melakukan pengawasan terhadap prilaku anak, pergaulan anak dan lingku­ngan anak diluar keluarga. Disebabkan jiwa anak pada usia SLTP merupakan ma­sa pancaroba, butuh bimbingan dan pengarahan agar tidak memikirkan sen­diri persialannya dan mencari solusi sendiri,”tegas­nya.

Diharapkan Pemerintah Kota Sawahlunto dalam hal ini, memang mengeluarkan program yang bisa me­ningkatkan kesehatan men­tal, keimanan dan ketakwaan bagi anak-anak usia sekolah yang dalam masa pubertas.  “Giatkan lagi Subuh berjamaah, Maghrib mengaji. Dampingi anak dengan Psikolog jika anak-anak tersebut ada indikasi ke hal yang menyangkut mental,” pung­kasnya. (pin)