SOLOK/SOLSEL

Genting Sebagai Upaya Intervensi Cegah Stunting, Jumlah Balita yang Berisiko Mencapai 648 Orang

0
×

Genting Sebagai Upaya Intervensi Cegah Stunting, Jumlah Balita yang Berisiko Mencapai 648 Orang

Sebarkan artikel ini
SAMBUTAN— Wabup Yulian Efi yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Solsel, memberikan arahan saat pembukaan Rapat Koordinasi TPPS Kabupaten Solok Selatan Periode III di Hotel Pesona Alam Sangir, Senin (27/10).

PADANG ARO, METRO–Pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai upaya intervensi penurunan stunting yang dilaksanakan di Kabupaten Solok Selatan terus digencarkan.  Pemerintah kabupaten pun menghimbau agar semakin banyak pihak yang terlibat untuk memasifkan Genting di wilayah-wilayah yang memiliki risiko stunting di Solok Selatan.

Wakil Bupati H. Yulian Efi, sekaligus sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Ka­bu­paten Solok Selatan me­ngatakan berbagai pihak dilibatkan untuk melaksanakan program ini.

Mulai dari jajaran pemerintahan, hingga peningkatkan peran pihak swas­ta sebagai salah satu stakeholder yang ada di daerah. “Saat ini sudah ada beberapa pihak yang terlibat dalam program Genting ini, salah satunya adalah perusahaan swasta yang beroperasi di Solok Selatan. Semoga mitra lainnya juga dapat berpartisipasi melalui kepedulian sebagai orag tua asuh yang memberikan bantuan baik nutrisi maupun non-nutrisi. Program ini sedang berlangsung dan terus kita upayakan,” kata Yulian  dalam sambutannya pada pembukaan Rapat  Koordinasi TPPS Kabupaten Solok Selatan Periode III di Hotel Pesona Alam Sangir, Senin (27/10).

Upaya penurunan dan pencegahan adanya kasus stunting baru di Solok Selatan juga sejalan dengan kesepakatan yang dibuat oleh seluruh Kepala Daerah se-Sumatera Barat untuk terus menekan angka kasus stunting di seluruh kabupaten/kota.

Wabup mengatakan bah­wa mengingat prevalensi stunting di provinsi yang tak bisa dibilang ren­dah, seluruh kabupaten/kota telah sepakat untuk menekan angka stunting di Provinsi Sumatera Barat ke angka 19% di 2026 nanti. “Diharapkan kita, seluruh pihak yang terlibat untuk menangani stunting ini bisa dijalankan dengan baik,” imbuhnya.

Program Genting di Kabupaten Solok Selatan dilaksanakan berdasarkan Surat Imbauan Bupati Solok Selatan Tentang Pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting di Kabupaten Solok Selatan tertanggal 28 Februari 2025. Gerakan ini menjadi upaya preventif untuk mencegah semakin naiknya angka stunting di kabupaten.

Menurut data dari Dinas P2KBPP&PA, jumlah balita yang berisiko stunting saat ini mencapai 648 orang, namun yang baru mendapatkan intervensi langsung dari program Genting baru mencapai 581 orang. Masih ada selisih yang harus diisi dengan dukungan dari berbagai pihak.

Dukungan yang diberikan pun tak melulu harus berupa bantuan nutrisi. Pasalnya, menurut data terbaru intervensi yang diberikan mayoritas adalah dukungan berupa edu­kasi kepada keluarga dengan risiko stunting agar semakin paham dan memperbaiki gaya hidup dan pola asuh menjadi lebih baik.

Keterlibatan berbagai pihak pun sudah mulai terlihat, mulai dari Baznas Solok Selatan, PT Supreme Energy, dan berbagai pihak lainnya yang tersebar di seluruh kecamatan.

Program Genting inipun bukan berupa isapan jempol belaka. Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan oleh PT Supreme Ener­gy Muara Laboh (SEML) pada September 2025 lalu, terdapat per­kem­bangan indikator pertambahan berat badan (BB) dari balita yang menjadi sasaran.

Field Relation Representative SEML Bujang Joan mengatakan salah satu hal yang didorong oleh perusahaan dalam upaya penurunan stunting adalah dengan mendorong gaya hi­dup dan pola makan yang berorientasi bahan pangan lokal.

“SEML melaksanakan program bantuan nutrisi kepada 214 balita di lima nagari di Kecamatan Alam Pauh Duo yang bekerja sama dengan Puskesmas dan UMKM yang ada di kecamatan. Selain itu juga memberikan bantuan edu­kasi karena targetnya adalah perubahan gaya hi­dup,” terang Bujang da­lam kesempatan yang sama.

Menurut paparan dari Ahli Gizi Puskesmas Pauh Duo, hasil monitoring pelaksanaan program periode 10-23 September 2025 ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan berat ba­dan kepada setidaknya separuh dari balita yang mendapatkan bantuan nutrisi.

Kenaikan berat badan ini disebut juga menjadi salah satu indikator untuk mendorong bertambahnya tinggi anak. Meski begitu, masih dibutuhkan tindak lanjut berupa pemantauan pemberian makanan Balita setiap hari oleh orang tua. (jef)