SETELAH jeda internasional Oktober berakhir, Premier League musim 2025/2026 kembali bergulir akhir pekan ini. Dari sepuluh laga yang akan dimainkan, semua mata tertuju pada satu partai besar — Liverpool vs Manchester United, duel klasik bertajuk North West Derby yang akan digelar di Stadion Anfield, Minggu (19/10) pukul 22.30 WIB.
Pertandingan ini bukan sekadar laga biasa. Bagi kedua tim, laga ini adalah pertaruhan harga diri, gengsi, dan momentum kebangkitan di tengah persaingan ketat Liga Inggris.
Liverpool, sang juara bertahan, tengah berusaha bangkit setelah dua kekalahan beruntun di liga dari Crystal Palace dan Chelsea. Tim besutan Arne Slot kini duduk di peringkat kedua klasemen sementara dengan 15 poin, terpaut satu angka dari pemuncak klasemen Arsenal.
Di sisi lain, Manchester United datang ke Anfield dengan performa yang tidak konsisten. Tim asuhan Ruben Amorim baru mengoleksi 10 poin dari tujuh laga, dan menempati posisi ke-10. Tiga kemenangan mereka musim ini semuanya didapat di kandang sendiri, sementara laga tandang menjadi mimpi buruk — hanya satu poin dari tiga pertandingan di luar Old Trafford.
Secara historis, Liverpool punya catatan mentereng saat bertemu Setan Merah dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lima pertemuan terakhir di Premier League, The Reds tak tersentuh kekalahan, termasuk kemenangan telak 7-0 pada Maret 2023 yang masih membekas di ingatan publik sepak bola dunia.
Kemenangan terakhir Manchester United atas Liverpool di liga terjadi pada Agustus 2022, saat menang 2-1 di Old Trafford. Ironisnya, itu menjadi satu-satunya kemenangan MU atas Liverpool dalam tujuh tahun terakhir di Premier League.
Meski rekor berpihak pada tuan rumah, tekanan justru berada di pundak Arne Slot. Liverpool saat ini sedang dalam performa naik-turun, ditambah badai cedera yang menghantam. Ryan Gravenberch dipastikan absen karena cedera hamstring, sementara Trent Alexander-Arnold dan Diogo Jota masih diragukan tampil.
Kehilangan pemain kunci jelas mengganggu keseimbangan permainan Liverpool, terutama di lini tengah yang menjadi motor serangan. Namun, Slot diyakini tetap akan mengandalkan Mohamed Salah dan Darwin Núñez sebagai ujung tombak untuk membongkar pertahanan United.
Dari kubu tamu, Amorim tengah menghadapi tekanan besar. Dalam 34 pertandingan liga sejak mengambil alih kursi pelatih, ia hanya mencatat 10 kemenangan. Hasil minor ini membuat sebagian fans mulai meragukan arah proyek Amorim di Old Trafford.
Salah satu pekerjaan rumah Amorim adalah menemukan posisi ideal bagi kapten Bruno Fernandes. Dalam beberapa laga terakhir, sang pelatih menempatkan Fernandes lebih dalam, membuat daya cipta serangannya berkurang drastis. Di laga sebesar ini, Fernandes diharapkan kembali ke peran ofensif untuk menopang duet striker Rasmus Højlund dan Marcus Rashford.
Secara rekor tandang, Manchester United menghadapi ancaman buruk. Mereka tidak pernah menang dalam delapan laga tandang terakhir di Premier League, dengan dua kali imbang dan enam kali kalah. Terakhir kali mereka menang di Anfield adalah pada Januari 2016 di era Louis van Gaal — sembilan tahun silam.
Sementara itu, Liverpool punya motivasi ganda. Selain ingin mengakhiri tren negatif, kemenangan atas rival abadinya ini akan menjaga peluang mereka merebut kembali posisi puncak klasemen dari Arsenal, yang sehari sebelumnya akan menghadapi Fulham di Craven Cottage.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa derby klasik ini selalu penuh kejutan. Statistik, rekor kandang, bahkan performa terakhir, sering kali tak berlaku ketika Liverpool dan Manchester United saling berhadapan. Dalam laga seperti ini, semangat dan gengsi sering lebih menentukan hasil akhir daripada taktik semata.
Dengan kedua tim sama-sama membutuhkan kemenangan untuk menjaga asa di papan atas, atmosfer panas dipastikan akan memenuhi Anfield akhir pekan ini. Siapa yang akan keluar sebagai penguasa baru Inggris barat laut — The Reds yang terluka atau Setan Merah yang berambisi bangkit? (*/rom)






