AGAM, METRO–Harimau Sumatera terekam CCTV terjebak di area perkantoran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Rabu dinihari (15/10).
Dalam video berdurasi sekitar 26 detik itu terlihat harimau tersebut memasuki halaman kantor BRIN. Di video lain, juga terlihat satwa yang dilindungi tersebut mengendap-ngendap saat berada di lokasi.
Menindaklanjutinya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, bergerak cepat ke kawasan perkantoran itu untuk melakukan penanganan dan memastikan keselamatan satwa dilindungi tersebut. Bahkan, aktivitas di pekantoran itu dihentikan sementara.
“Kami melakukan tahapan penanganan harimau di area perkantoran BRIN di Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Agam. Jarak perkantoran itu sekitar 200 meter dari posko pemantauan. Harimau ini diduga mengejar anjing di kawasan tersebut dan terjebak di sana,” kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, Kamis (16/10).
Dijelaskan Ade, penanganan harimau sumatera tersebut dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencoba mengarahkan satwa tersebut kembali ke lokasi induknya.
“Pengiriman ke lokasi induk kita lakukan dan langkah ini bisa efektif, sehingga anak harimau dengan usia di bawah dua tahun bisa bertemu dengan induknya dan saudara yang lain, karena ada tiga individu di daerah itu. Namun, apabila upaya tersebut tidak berhasil, BKSDA tidak menutup kemungkinan akan mengevakuasi satwa dengan kandang jebak atau pembiusan,” tutur dia.
Ade meambahkan, untuk memastikan keamanan, tim gabungan dari BKSDA Sumbar, Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh, Pagari Baring, Pagari Salareh Aia, Centre for Orangutan Protection (COP), dan mahasiswa Kehutanan Universitas Riau (UNRI) melakukan pemantauan menggunakan drone termal di area BRIN yang memiliki lahan seluas puluhan hektare.
“Dari hasil pemantauan drone termal, satwa masih berada di kawasan BRIN karena area itu dipagar beton setinggi sekitar 1,5 meter. Aktivitas di kawasan tersebut dihentikan sementara waktu demi keselamatan semua pihak,” pungkasnya. (*)






