METRO SUMBAR

Padang Kota Tercinta — Antara Kemajuan dan Kehampaan Sosial

0
×

Padang Kota Tercinta — Antara Kemajuan dan Kehampaan Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rayhan Alhakim (Ketua BEM FH Unand 2025)

Dewasa ini, Kota Padang tengah memperlihatkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Sebab, Indeks Pemba­ngunan Manusia (IPM) per-2024 meningkat menjadi 84,38 % dan angka kemiskinan menurun menjadi sekitar 4,06 % per-Desember 2024. Namun dibalik angka-angka yang membanggakan tersebut, terselip tantangan nyata dalam aspek sosial dan ekonomi antara masyarakat yang hidup di pusat kota dengan ma­syarakat yang hidup di daerah pinggiran.

Kemudian, perbedaan akses terhadap peme­ra­taan kesehatan, pendidikan, dan lapangan kerja juga menjadi aspek yang perlu untuk diperhatikan. Akar kesenjangan di Kota Padang dimulai dari pelayanan kesehatan beserta fasilitas yang tidak merata. Meski program seperti Badan Penyelenggara Ja­minan Sosial (BPJS) mela­kukan pendekatan pada pelayanan, namun kualitas dalam pelayanan kesehatan di daerah yang jauh dari pusat kota masih se­ring menjadi keluhan yang mendasar. Seperti halnya akses menuju rumah sakit khusus, kebutuhan ma­syarakat dengan dokter spesialis, hingga kebutuhan fasilitas medis pendukung seperti alat laboratorium dan apotek yang cukup dan memadai.

Masyarakat pinggiran Kota Padang atau di daerah terpencil di Kota Padang selalu menghadapi waktu, jarak tempuh, dan biaya yang lebih tinggi untuk mendapatkan layanan yang layak. Kemudian perbedaan dalam masyarakat mendapatkan akses pendidikan. Di pusat kota, se­kolah seringkali mendapatkan fasilitas yang lebih baik dan akses internet yang layak telah menjadi hal yang lumrah.

Sedangkan sebaliknya, sekolah di daerah pinggiran kota yang jauh masih da­lam kondisi minim fasilitas dan bahkan terkendala dalam jaringan internet untuk menunjang pembe­lajaran dan teknologi pendidikan. Sehingga perihal demikian akan berdampak pada kesiapan jangka panjang masyarakat dalam mendapatkan pekerjaan yang cukup dan layak. Menurut laporan, mes­ki­pun angka kemiskinan ekstrem di Kota Padang hampir mendekati nol, tetapi masih ditemukan sekitar 40.000 jiwa masyarakat Kota Padang dengan penghasilan rendah (MBR) dan tergolong dalam kelompok rentan. Sebagian besar dari masyarakat pinggiran bergantung hidup pada sektor informal seperti pekerja harian, pedagang kecil, buruh, dan pekerja serabutan. Kesempatan kerja formal dan lapangan kerja dengan upah yang layak masih sangat terbatas, terutama bagi masya­rakat pinggiran dan tidak tamat sekolah.

Dilain sisi, migrasi rural-urban yang terus berlangsung membawa tekanan pada infrastruktur kota seperti perumahan, transportasi, air bersih, sanitasi, serta layanan publik lainnya. Di beberapa daerah, pertumbuhan fisik kota tidak diiringi dengan pe­ngembangan fasilitas publik yang memadai, sehingga memaksa masyarakat pinggiran untuk berusaha ekstra dalam memenuhi kestabilan dan kualitas hidup. Dari data Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Padang 2024 memperlihatkan perbedaan kualitas dan kesejahteraan hi­dup antara wilayah pusat kota dengan daerah pinggiran yang masih sangat nyata.

Perihal ini menjadi pen­ting, sebab kesenjangan bukan sekadar menyoal angka statistik, tetapi jauh ke depan dapat berimplikasi pada keadilan sosial. Setiap masyarakat seharusnya mendapatkan hak yang sama terhadap pendidikan, fasilitas kesehatan, dan pekerjaan.

Ketimpangan dapat me­nimbulkan krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan rasa persatuan dalam bermasyarakat. Sehingga pembangunan jang­ka panjang hanya akan menjadi angan-angan belaka ketika sebagian besar masyarakat tidak mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan dan kesehatan. Ketidakme­ra­taan tersebut dapat m­e­micu ketidakpuasan sosial yang kemudian akan berdampak kepada mening­katnya angka kriminalitas serta peminggiran-peminggiran kelompok ma­syarakat tertentu.

Rekomendasi Kota Padang harus berbenah, tidak bisa stagnan. Penguatan sekolah di pinggiran kota menjadi salah satu daripada langkah awal. Pemerintah Kota Padang harus memprioritaskan bagaimana peningkatan fasilitas pada sekolah-se­kolah di pinggiran Kota Padang dengan menyediakan sarana teknologi serta memastikan seluruh tenaga pengajar berkualitas dan stabil agar kelangsungan pendidikan dapat meningkat hingga signifikan. Kemudian peningkatan layanan kesehatan yang lebih merata. Perlu ada klinik keliling terjadwal yang diketahui oleh ma­syarakat melalui sosialisasi, puskesmas yang parameternya lengkap, serta dokter-dokter spesialis untuk melayani masyarakat di daerah pinggiran dan terpencil.

Melalui kerja sama de­ngan sektor-sektor swasta, peningkatan pada akses lapangan kerja formal dan pelatihan kejuruan juga menjadi solusi. Seperti halnya pelatihan kursus dan keterampilan inkubasi usaha mikro dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan inovasi dan usaha yang bernilai jual.

Selanjutnya pemba­ngunan publik yang inklusif seperti perumahan dan infrastruktur dengan memperhatikan kondisi geo­grafis strategis yang layak, bersih, dan transportasi umum yang memadai. Pe­rencanaan kota harus me­nyesuaikan kondisi geo­grafis dan zona di pinggiran kota sebagai bagian yang sama pentingnya dengan daerah pusat kota.

Melibatkan partisipasi masyarakat dapat menjadi salah satu cara dalam transparansi perencanaan pembangunan kota dan menjadi ruang aspiratif dua arah antara pemerintah dengan masyarakat. Sehingga pemerintah menjadi tahu akan persoalan dan kebutuhan di suatu daerah tertentu, dan ma­syarakat pun tahu situasi kondisi dari keutuhan Pemerintah Kota Padang. Data basis pembangunan juga harus menyajikan perbedaan antar wilayah agar perumusan kebijakan le­bih sesuai dan tepat sasaran.

Penutup

Padang sudah menunjukkan kemajuan yang ti­dak bisa diabaikan. Tetapi sebuah kota yang maju bukanlah kota yang hanya memiliki angka IPM tinggi atau pertumbuhan eko­nomi yang bagus, melainkan kota yang maju adalah kota yang adil dalam me­nyediakan kesempatan dan layanan bagi seluruh masyarakat tanpa melihat di mana mereka tinggal atau seberapa tingkat ekonominya. Ke depannya, apabila pembangunan te­tap saja berpusat pada wilayah-wilayah strategis dan lingkungan elite saja, maka kemajuan pemba­ngunan dan kelayakan hidup hanya akan menjadi hampa bagi sebagian besar masyarakat Kota Padang. Sudah saatnya Pemerintah Kota Padang mendengar, menjawab, dan menjalankan suara-suara masyarakat Kota Padang yang masih tersisih di belakang. Sebab, kota yang inklusif bukanlah se­kadar cita-cita kosong, melainkan sebuah keyakinan dan keteguhan dalam men­capai keinginan bersama. (***)