BERITA UTAMA

12.000 Ton Cangkang Sawit Sumbar Lolos Karantina ke Jepang

1
×

12.000 Ton Cangkang Sawit Sumbar Lolos Karantina ke Jepang

Sebarkan artikel ini
EKSPOR CANGKANG SAWIT— Karantina Sumbar kembali mencatatkan capaian positif di sektor ekspor. Sebanyak 12.000 ton cangkang inti sawit berhasil difasilitasi untuk dikirim ke Jepang dengan nilai transaksi mencapai USD 960.000 atau setara Rp15,6 miliar.

PADANG, METRO–Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat (Karantina Sumbar) kembali mencatatkan capaian positif di sektor ekspor. Sebanyak 12.000 ton Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang inti sawit berhasil difasilitasi untuk dikirim ke Jepang dengan nilai transaksi mencapai USD 960.000 atau setara Rp15,6 miliar.

Kepala Balai Karantina Sumbar, RM Ende Dezeanto, menegaskan bahwa ekspor ini menjadi bagian dari rutinitas kerja Karantina Sumbar dalam mendukung kelancaran perdagangan internasional.

“Komitmen kami adalah memastikan ekspor berjalan lancar dengan tetap menge­depankan aspek keamanan dan kualitas produk sesuai standar karantina internasional,” ujar Ende.

Ia menjelaskan, sebelum dikirim, PKS harus melewati serangkaian prosedur ketat. Proses dimulai dari pengambilan sampel (sampling) langsung di gudang penyimpanan milik perusahaan eksportir.

Sampel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium karantina untuk diuji. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan cangkang sawit bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang bisa menimbulkan risiko bagi pertanian di negara tujuan.

Baca Juga  Pensiunan PT KAI Tewas Ditabrak Truk

“Jika ditemukan OPTK, produk tentu tidak akan bisa diberangkatkan. Karena itu, pengujian laboratorium men­­­jadi tahap penting sebelum proses ekspor dilanjutkan,” kata Ende.

Setelah dinyatakan aman, tahap berikutnya adalah pengawasan pemuatan (loading supervision) ke kapal di Pelabuhan Teluk Ba­yur, Padang. Petugas karantina hadir langsung di lapangan guna memastikan tidak ada kontaminasi serta memastikan kesesuaian pro­duk dengan dokumen yang su­dah diverifikasi.

Proses pengawasan ini, lanjut Ende, merupakan bentuk tanggung jawab Ka­ran­tina Sumbar dalam menjamin mutu produk ekspor. “Kami ingin memastikan bahwa apa yang masuk ke kapal adalah produk yang benar-benar telah lolos dari semua tahapan pemeriksaan,” ujarnya.

Palm Kernel Shell sendiri merupakan salah satu komo­ditas turunan kelapa sa­wit yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Di Jepang, pro­duk ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan (biomassa) untuk kebutuhan pembangkit listrik.

Selain Jepang, Korea Selatan juga menjadi salah satu negara tujuan utama ekspor PKS dari Sumatera Barat. Kedua negara ini tengah gencar mengembangkan energi ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan ba­kar fosil.

Baca Juga  Tertangkap, Pencuri Kedapatan Simpan Sabu

Ekspor melalui Pelabuhan Teluk Bayur tercatat berlangsung rutin setiap tahunnya. Volume ekspor PKS dari Sumbar terus meningkat seiring dengan permintaan global terhadap energi hijau yang semakin tinggi.

Ende menegaskan, keberhasilan ekspor ini tidak hanya berdampak pada kon­tribusi devisa negara, te­tapi juga memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah.

“Ekspor PKS membantu meng­gerakkan roda eko­nomi masyarakat, khususnya para pelaku usaha di sektor perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat,” katanya.

Ia berharap, tren positif ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga karantina. “Kami berkomitmen untuk selalu hadir mendukung upaya ekspor komoditas unggulan daerah,” pungkas Ende.

Dengan capaian tersebut, Sumatera Barat kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu daerah penghasil produk turunan kelapa sawit yang mampu menembus pasar internasional. (rom)