JOSE MOURINHO akhirnya resmi kembali ke tanah kelahirannya. Pelatih berusia 62 tahun itu diumumkan sebagai manajer baru Benfica dengan kontrak hingga musim panas 2027. Kabar ini sontak mengguncang sepak bola Portugal, mengingat Mourinho terakhir kali melatih di negeri sendiri lebih dari dua dekade lalu.
Benfica dalam keterangannya menegaskan kontrak Mourinho disertai klausul khusus: kerja sama bisa diputus sepuluh hari setelah musim berakhir. Klausul ini disiapkan berkaitan dengan pemilihan presiden klub yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Hal itu memberi fleksibilitas baik bagi manajemen maupun Mourinho sendiri.
Penunjukan Mourinho tidak lepas dari kondisi darurat di tubuh Benfica. Klub asal Lisbon tersebut baru saja memecat Bruno Lage usai kekalahan mengejutkan 2-3 dari Qarabag di Liga Champions. Hasil itu memicu tekanan hebat dan membuat kursi pelatih berguncang. Manajemen pun bergerak cepat dengan menunjuk sosok berpengalaman seperti Mourinho.
Dalam pernyataan resminya, Mourinho menyampaikan rasa bangga yang mendalam bisa kembali ke klub yang juga membesarkan namanya. “Saya memiliki kesempatan melatih klub-klub terbesar dunia, tapi tidak ada yang membuat saya lebih terhormat, bertanggung jawab, atau termotivasi dibanding menjadi pelatih Benfica. Saya akan hidup untuk Benfica, untuk misi saya,” ucap Mourinho dikutip dari The Guardian, Jumat (19/9).
Bagi Mourinho, ini adalah kisah pulang kampung yang penuh makna. Ia terakhir kali bekerja di Portugal saat melatih Porto pada awal 2000-an, klub yang membawanya meraih Liga Champions 2004 sebelum kariernya melesat ke kancah Eropa. Kini, setelah berkelana ke Inggris, Italia, Spanyol, dan Turki, ia kembali dengan misi baru bersama Benfica.
Ironisnya, kepindahan Mourinho ke Benfica justru terjadi setelah pertemuan pahit. Hanya bulan lalu, tim yang kala itu ia latih, Fenerbahce, disingkirkan Benfica di babak playoff Liga Champions. Kekalahan itu sekaligus menjadi akhir perjalanan singkatnya bersama klub asal Turki tersebut.
Tugas besar sudah menanti sang pelatih. Debut Eropa Mourinho bersama Benfica langsung mempertemukannya dengan Chelsea pada 30 September mendatang. Pertandingan ini sarat emosi, mengingat Chelsea adalah klub yang pernah ia tangani dalam dua periode berbeda dan menjadi bagian penting dari perjalanan kepelatihannya.
Di kompetisi domestik, Benfica juga menghadapi tantangan berat. Saat ini mereka hanya duduk di peringkat keenam klasemen Liga Portugal, tertinggal cukup jauh dari pemuncak klasemen. Mourinho dituntut untuk segera menemukan ritme permainan tim sekaligus mengembalikan kepercayaan diri para pemain.
Kehadirannya diharap bisa membawa stabilitas sekaligus mental juara yang sempat hilang. Dengan segudang pengalaman, Mourinho diharapkan mampu mengangkat Benfica kembali ke jalur persaingan, baik di liga maupun di pentas Eropa.
Para pendukung Benfica menyambut penunjukan ini dengan optimisme sekaligus ekspektasi tinggi. Mereka berharap kehadiran Mourinho bukan hanya sekadar nama besar, tetapi benar-benar bisa mengembalikan kejayaan klub.
Bagi Mourinho sendiri, kesempatan ini adalah babak baru sekaligus tantangan besar. “Kata-kata bisa terbawa angin, tapi tindakan tidak. Janji saya sangat jelas: saya akan hidup untuk Benfica,” tegasnya.
Dengan gaya khasnya yang penuh karisma dan kontroversi, Mourinho kini siap menulis babak baru dalam sejarah kariernya. Apakah “The Special One” mampu menjadikan Benfica kembali ditakuti di Eropa? Jawabannya akan mulai terlihat pada akhir September, ketika ia memimpin armada Lisbon menghadapi mantan klubnya, Chelsea. (*/rom)





