METRO SUMBAR

Kisah Monica Wareza, dari Ruang Redaksi CNBC ke Balik Meja Pemerintahan

1
×

Kisah Monica Wareza, dari Ruang Redaksi CNBC ke Balik Meja Pemerintahan

Sebarkan artikel ini
SENSASI LAYANGAN GANTUNG—Monica Wareza, saat menikmati indahnya alam dari atas layang gantung.

SOLSEL, METRO –Dunia jurnalisme kerap identik dengan dinamika dan ketajaman analisis suatu informasi. Di sisi lain, birokrasi pemerintahan dikenal penuh prosedur dan disiplin administrasi.  Monica Wareza (27) seo­rang gadis asal Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, merasakan langsung kontrasnya dua dunia itu.

Lulusan Ilmu Komunikasi Telkom University ini pernah melesat sebagai jurnalis CNBC Indonesia, sebelum akhirnya memilih jalur tak terduga. Monica, 5 tahun mengarungi dunia jurnalistik. Kini ia menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bertugas sebagai Analis Berita di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Solok Selatan.

“Awalnya sama sekali tidak tertarik ikut tes PNS,” kata Monica sambil tertawa kecil ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (18/9).

“Orang tua sudah beberapa kali minta, tapi selalu Monic tolak karena merasa sudah nyaman dengan pekerjaan impian sejak kecil sebagai jurnalis. Namun pandemi Covid-19 mengubah banyak hal,” katanya.

Menurutnya, di saat keluarga dilanda kepanikan, ia akhirnya luluh dan mendaftar CPNS 2021. “Sebagai bentuk tebusan ke orang tua, Monic coba sekali saja. Nggak berharap lolos, cuma latihan soal sekadar gambaran. Eh, ternyata tembus. Mau nggak mau, Monic ambil,” tuturnya.

Pengalaman bertahun-tahun di media arus utama membuat Monica tak me­rasa asing dengan ritme kerja pemerintahan. Kemampuannya menang­kap inti informasi, menulis rilis berita dan memahami ekspektasi wartawan menjadi modal besar dalam peran barunya.

Baca Juga  Sosialisasikan Perda Nomor 16 Tahun 2019, Wakil Ketua DPRD Sumbar Iqra Chissa Berikan Bantuan Modal untuk Pelaku UMK

“Produksi press release jadi jauh lebih efisien. Kami tahu apa yang dibutuhkan wartawan, sehingga produk yang kami buat bisa langsung dipakai teman-teman media,” ujar­nya.

Selain itu, jejaring yang terbangun semasa menjadi jurnalis memudahkannya berkomunikasi dengan awak media lokal.

Kepekaannya pada isu publik juga terasah sejak di ruang redaksi. “Dulu tugas kami memantau isu agar berita tetap berimbang. Sekarang, itu berguna untuk meluruskan informasi supaya tidak berkembang menjadi preseden negatif bagi pemerintah,” kata Monica.

Pengalaman liputan juga memberinya keberanian berinteraksi dengan pejabat. “Saya jadi lebih percaya diri menghadapi orang-orang penting,” tambahnya.

Meski bekal jurnalistik memudahkan, transisi ke dunia birokrasi bukan tanpa gesekan. Monica me­ngaku kerap harus menahan kebiasaan lama yang kritis.

“Di birokrasi, mempertanyakan perintah atasan itu berat. Sistemnya ketat, ruang diskusi minim,” ujar­nya.

Hal lain yang menge­jutkannya adalah urusan administrasi. “Dulu kerja fleksibel tapi tetap bertanggung jawab. Sekarang, sudah melakukan hal yang sama saja masih bisa dicurigai,” timpalnya sambil bercanda.

Namun di balik ke­ka­kuan prosedur, ia menemukan ruang untuk berinovasi. Kemampuan verifikasi dan mengolah data keterampilan khas jurnalis membantu Monica menyajikan informasi berbasis fakta.

Baca Juga  Pjs Bupati Arry Yuswandi  Lepas Kafilah, Tanah Datar Wakili Sumbar di Ajang MTQ KORPRI ke-VII Palangkaraya

“Di sini, menerjemahkan data ke dalam kalimat yang mudah dipahami itu krusial. Banyak orang dulu hanya menyodorkan data mentah tanpa penjelasan,” sebutnya. Sebagai Analis Berita di Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Monica memikul tanggung jawab memastikan informasi pemerintah tersampaikan secara akurat dan dapat dipercaya. “Tugas kami mendukung pemerintahan yang akuntabel dan transparan. Kami juga men­dorong dinas lain agar mau berbagi informasi program mereka lewat media sosial. Masyarakat harus tahu bahwa PNS bukan hanya absen, main gim, istirahat, dan pulang,” katanya.

Perbedaan paling mencolok antara ruang redaksi dan kantor pemerintahan, menurut Monica, terletak pada sudut pandang.  “Kalau di media, bad news is good news. Di pemerintahan, tentu tidak bisa seperti itu. Kami justru harus menyajikan informasi yang menenangkan, tapi tetap faktual,” tegasnya.

“Kalau mau belajar soal komunikasi publik dan memahami bagaimana kebijakan pemerintah disusun, ini tempatnya,” lanjut Monica.

Ke depan, Monica berharap sistem analisis berita di pemerintah daerah bisa lebih lincah, mengadopsi kecepatan kerja media, dan memanfaatkan data secara lebih cerdas.  “Transparansi itu bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan. Masyarakat sekarang kritis. Mereka i­ngin tahu apa yang dikerjakan pemerintah dan tugas kami memastikan informasi itu sampai,” pung­kasnya. (jef)